PANDANGAN ULAMA 4 MAZHAB MENGENAI NEGERI ISLAM

Oleh Ust. Beni Sarbeni, Lc

1. Ulama Hanafiyah

Imam as-Sarkhasi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Mabsuth: “Satu negeri dinisbatkan kepada kita atau kepada mereka karena kekuatan, setiap negeri yang nampak padana hukum syirik maka kekuatan dinegeri tersebut milik orang-orang musyrik dan setiap negeri yang paling nampak padanya hukum islam maka kekuatan milik kaum muslimin” (Al-Mabsuth X/ 114)

Al-Kasani rahimahullah berkata: “Tidak ada perbedaan diantara mazhab kami (Hanafiyah) bahwa, negeri kafir berubah menjadi negeri islam dengan nampaknya hukum-hukum di negeri tersebut” (Bada’ius Shana’l VII/ 130)

Lalu apa maksud hukum-hukum islam dalam perkataan ulama diatas, hal ini dijelaskan oleh penulis kitab ad-Darrul Mukhtar: :Dan negeri kafir berubah menjadi negeri islam dengan berlakunya hukum-hukum islam di negeri tersebut seperti pelaksanaan shalat jum’at dan i’ed (Ad-Durrul Mukhtar IV/ 130)

tentunya penafsiran tersebut berdasarkan hadits Anas bin Malik yang menjadi dasar dalam pembahasan ini

2. Ulama Malikiyah

Ulama Malikiyah menjadikan adzan sebagai tanda yang membedakan antara negeri islam dan negeri kafir, ingat ini hanya sebatas tanda adapun illahnya jelas, yakni kekuasaan yang dimiliki oleh kaum muslimin

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: “Tidak saya ketahui adanya perbedaan pendapat diantara para ulama bahwa, secara umum adzan itu wajib atas seluruh penduduk negeri, karena ia adalah tanda yang membedakan antara negeri islam dan kafir, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam jika mengutus pasukan beliau mengatakan: “Jika kalian mendengar adzan maka tahanlah” (Al-Istidzkar IV/ 18)

Al- Mazari rahimahullah berkata: “Adzan itu memiliki dua tujuan penting, pertama: menapakkan syiar islam, kedua: mengenalkan bahwa negeri tersebut adalah negeri islam” (Ad-Dzakhirah karya al-Qarrafi II/ 58)

3. Ulama Syafi’iyah

Ulama Syafi’iyah membagi negeri islam menjadi tiga:

1). Negeri islam yang dimiliki secara paksa

2). Negeri islam yang dimiliki karena diberikan begitu saja oleh orang-orang kafir dan mereka keluar dari negeri tersebut

3). Negeri islam yang dimiliki dengan perdamaian, dengan syarat mereka membayar pajak

Pada macam yang ketiga ini, negeri tersebut masih disebut negeri islam walaupun penduduknya kafir dan menerapkansyariat agama mereka, hal itu karena kekuasaan ada di tangan kaum muslimin (Lihat kitab Takfirud Duwal wal Hukkam, hal: 167)

Imam ar-Rafii rahimahullah berkata: “Suatu negeri sudah cukup dinamakan negeri islam hanya karena dibawah kekuasaan penguasa muslim, bahkan seandainya tidak ada muslim dinegeri tersebut” (Fathul Aziz VIII/ 14)

Kalimat “tidak ada muslim” menunjukkan tidak ada penerapan hukum islam disana

4. Ulama Hanabilah

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa, “Negeri islam itu ada dua……… kedua: adalah negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin seperti negeri-negeri di Syam, walaupun hanya ada seorang muslim di negeri tersebut maka negeri tersebut disebut negeri islam….” (Al-Mugni VI/ 35)

Syaikh Khalid al-Anbari mengatakan: “Demikianlah perkataan para ulama, diantara mereka ada yang menyatakan bahwa, diantara negeri islam adalah negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin dan orang-orang kafir menyerah dengan membayar jizyah, tentu tidak diragukan bahwa, mereka di negeri itu menetapkan hukum yang tidak diturunkan oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa, negeri itu dinisbatkan kepada yang berkuasa padanya”. (Takfirud Duwal wal Hukkam 169)

Abu Ya’la al-Hanbali berkata: “Setiap negeri yang didominasi dengan hukum islam diatas hukum kafir, maka ia adalah negeri islam”. (Al-Mu’tamad fi Ushuliddin 267)

Catatan: Bahwa yang dimaksud dengan hukum islam adalah syiar-syiar islam sebagaimana dijelaskan diatas dan berdasarkan hadits Anas bin Malik

Kesimpulannya adalah sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hazm: “Negara itu dinisbatkan kepada yang berkuasa dan yang memimpinnya” (Al-Muhalla XIII/ 140)

Jadi negeri kita ini INDONESIA adalah NEGERI ISLAM walaupun yang diterapkan hukum positif, tentunya selama yang berkuasa adalah penguasa muslim dan syiar-syiar islam nampak ditunaikan

# Faedah kajian rutin ponpes Sabilunnajah Bandung, tema: “NKRI Dalam Tinjauan Syari’at Islam”

Dipublish oleh .Alex Ibnu Alrasyid

Advertisements