Murji’ah Ma’al-Hukkaam !

oleh .Ustadz Abul-Jauzaa ( Dony Arif Wibowo )

BOGOR – 15 April 2017

Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullah membawakan riwayat :

وسمعت الحاكم أبا عبد الله الحافظ : سمعت أبا بكر محمد بن أحمد بن بالويه الجلاب يقول: سمعت أبا بكر محمد بن إسحاق ابن خزيمة يقول: سمعت أحمد بن سعيد الرباطي يقول: قال لي عبد الله بن طاهر : يا أحمد إنكم تبغضون هؤلاء القوم جهلاً وأنا أبغضهم عن معرفة. أولاً إنهم لا يرون للسلطان طاعة. والثاني : إنه ليس للإيمان عندهم قدر. والله لا أستجيز أن أقول : إيماني كإيمان يحيى بن  يحيى ولا كإيمان أحمد بن حنبل. وهم يقولون: إيماننا كإيمان جبريل وميكائيل

Dan aku mendengar Al-Haakim Abu ‘Abdillah Al-Haafidh (ia berkata) : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Baaluyah Al-Jalaab berkata : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah berkata : Aku mendengar Ahmad bin Sa’iid Ar-Rabaathiy berkata : ‘Abdullah bin Thaahir pernah berkata kepadaku : “Wahai Ahmad, sesungguhnya engkau membenci kaum itu (Murji’ah) dengan kebodohan, sedangkan aku membenci mereka berdasarkan pengetahuan. Pertama, mereka adalah mereka tidak memandang adanya ketaatan terhadap penguasa. Dan kedua, mereka memandang tidak adanya kadar/tingkatan bagi keimanan. Demi Allah, aku tidak membolehkan diriku untuk mengatakan keimananku seperti Yahyaa bin Yahyaa, tidak pula seperti keimanan Ahmad bin Hanbal. Adapun mereka mengatakan : keimanan kita seperti keimanan Jibriil dan Mikaaiil” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabul-Hadiits, hal. 64 no. 64; sanadnya shahih].

Asy-Syaikh Naashir bin ‘Abdil-Kariim Al-‘Aql hafidhahullahmenjelaskan point di atas sebagai berikut:

والأصول المشتركة عند جميع أهل الأهواء أنهم كلهم لا يرون للسلطان طاعة، كالمرجئة، والقدرية، والجهمية، والمعتزلة، وأهل الكلام المتأخرين، وخاصة أهل الكلام بالذات، أما من انتسب للكلام كبعض الأشاعرة والماتريدية فقد يقولون بقول السلف في مسألة السلطان، لكن من أصول مذاهبهم أنهم يرون الخروج على السلطان وعدم طاعة السلطان، كذلك من قبلهم الخوارج والسبئية الرافضة ومن سلك سبيلهم كلهم لا يرون للسلطان طاعة، وهذا مبدأ عام عند جميع الفرق إلا النادر، والنادر لا حكم له

“Dan perkara ushuul yang bersifat kolektif ada pada kelompok pengikut hawa nafsu, bahwasannya mereka semua berpandangan tidak adanya ketaatan terhadap penguasa, seperti Murji’ah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan ahlul-kalam belakangan, khususnya ahlul-kalam terhadap Dzat (Allah). Adapun orang yang dinisbatkan pada ilmu kalam seperti sebagian kelompok Asyaa’irah dan Maaturidiyyah, maka mereka berpendapat dengan pendapat salaf dalam permasalahan (ketaatan terhadap) penguasa. Akan tetapi termasuk ushul/pokok madzhab mereka bahwa mereka berpandangan bolehnya keluar/memberontak terhadap penguasa dan meniadakan ketaatan terhadapnya. Begitu pula kelompok sebelum mereka seperti Khawaarij, Sabaiyyah Raafidlah, dan orang-orang yang menempuh jalan mereka; semuanya berpandangan tidak adanya ketaatan terhadap penguasa. Ini adalah prinsip umum yang ada pada seluruh kelompok (ahlul-bid’ah/hawa nafsu) kecuali sedikit sekali, sedangkan yang sedikit ini tidak ada hukum padanya” [sumber :transkrip rekaman audio.islamweb].

Diriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy rahimahullah, ia berkata:

اتَّقُوا هَذِهِ الأَهْوَاءَ الْمُضِلَّةَ ” قِيلَ لَهُ: بَيِّنْ لَنَا، رَحِمَكَ اللَّهُ. قَالَ سُفْيَانُ: ” أَمَّا الْمُرْجِئَةُ فَيَقُولُونَ: الإِيمَانُ كَلامٌ بِلا عَمَلٍ، مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُسْتَكْمِلُ الإِيمَانِ، عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَالْمَلائِكَةِ، وَإِنْ قَتَلَ كَذَا وَكَذَا مُؤْمِنٍ، وَإِنْ تَرَكَ الْغُسْلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَإِنْ تَرَكَ الصَّلاةَ، وَهُمْ يَرَوْنَ السَّيْفَ عَلَى أَهْلِ الْقِبْلَةِ

“Berhati-hatilah kalian terhadap hawa nafsu yang menyesatkan”. Dikatakan kepadanya : “Terangkanlah kepada kami, semoga Allah merahmatimu”. Sufyaan berkata : “Adapun Murji’ah, mereka berkata : iman adalah perkataan tanpa amal. Barangsiapa yang mengucapkanasyhadu an laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya), maka ia mukmin yang sempurna imannya seperti imannya Jibriil dan para malaikat. Meskipun ia membunuh demikian dan demikian, maka ia (tetap) mukmin. Meskipun ia meninggalkan mandi janabah dan meninggalkan shalat.Dan mereka berpendapat bolehnya mengangkat pedang terhadap ahlul-kiblat (kaum muslimin)” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 3/583-584 no. 2116, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1834, dan Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah hal. 27 no. 15].

Ada seseorang yang bertanya kepada ‘Abdullah bin Al-Mubaarak rahimahumallah, apakah ia berpemikiran irjaa’ ?. Maka ia (Ibnul-Mubaarak) menjawab:

كَيْفَ أَكُونُ مُرْجِئًا، فَأَنَا لا أَرَى رَأْيَ السَّيْفِ؟ وَكَيْفَ أَكُونُ مُرْجِئًا، وَأَنَا أَقُولُ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ؟

“Bagaimana bisa aku menjadi seorang Murji’ah, sedangkan aku tidak berpendapat bolehnya mengangkat pedang ?Bagaimana bisa aku menjadi seorang Murji’ah, sedangkan aku mengatakan : ‘iman adalah perkataan dan perbuatan’ ?” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah hal. 28 no. 17].

Sufyaan bin ‘Uyainah dan Al-Auzaa’iy rahimahumullahberkata:

إِنَّ قَوْلَ الْمُرْجِئَةِ يَخْرُجُ إِلَى السَّيْفِ

“Sesungguhnya perkataan Murji’ah keluar menujupenghalalan pedang” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 363; shahih].

Qataadah rahimahullah berkata:

إِنَّمَا حَدَثَ هَذَا الإِرْجَاءُ بَعْدَ هَزِيمَةِ ابْنِ الأَشْعَثِ

“Paham irja’ itu hanya muncul pertama kali setelah terjadinya fitnah Ibnul-Asy’ats” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnad-nya hal. 527 no. 1091, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah hal. 319 no. 644, dan Al-Khallaal dalamAs-Sunnah no. 1252].

Fitnah Ibnul-Asy’ats adalah peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnul-Asy’ats melawan Al-Hajjaaj bin Yuusuf Ats-Tsaqafiy, yang berakhir dengan kekalahan dan eksekusi Ibnul-Asy’ats pada tahun 82 H.

Dari perkataan salaf di atas, nampak kesamaan antara Khawaarij dan Murji’ah dari sisi muamalah mereka terhadap penguasa. Mereka sama-sama membolehkan pemberontakan dan mengangkat pedang melawan mereka. Inilah perkara ushul yang ada pada setiap ahli-bid’ah sebagaimana dijelaskan Asy-Syaikh Naashir bin ‘Abdil-Kariim Al-‘Aql di atas. Dan inilah pula yang dikatakan oleh sebagian salaf, diantaranya Abu Qilaabahrahimahullah :

مَا ابْتَدَعَ رَجُلٌ بِدْعَةً إِلا اسْتَحَلَّ السَّيْفَ

“Tidaklah seseorang berbuat kebid’ahan kecuali ia akan menghalalkan pedang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah 3/580 no. 2106 & 2109; shahih].

مَثَلُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ مَثَلُ الْمُنَافِقِينَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ الْمُنَافِقِينَ بِقَوْلٍ مُخْتَلِفٍ وَعَمِلٍ مُخْتَلِفٍ، وَجِمَاعُ ذَلِكَ الضُّلالُ، وَإِنَّ أَهْلَ الأَهْوَاءِ اخْتَلَفُوا فِي الأَهْوَاءِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفِ

“Permisalan pengikut hawa nafsu seperti permisalan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah ta’alamenyebutkan orang-orang munafik dengan perkataan yang berbeda-beda dan perbuatan yang berbeda-beda, namun semua itu adalah kesesatan. Dan pengikut hawa nafsu berbeda-beda dalam hawa nafsu (yang mereka ikuti), dan mereka semua berkumpul di atas (mengangkat) pedang” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 2/287-288].

Begitu pula yang dikatakan Al-Barbahaariy rahimahullah:

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأَهْوَاءَ كَلُّهَا رَدِيَّةٌ تَدْعُوْ كُلُّهَا إِلَى السَّيْفِ

“Ketahuilah, sesungguhnya hawa nafsu (pemahaman sesat/bid’ah) seluruhnya jelek. Seluruhnya mengajak pada (penghalalan mengangkat) pedang” [Syarhus-Sunnah, hal. 120 no. 136].

Sebagian salaf bahkan menyebut setiap ahli bid’ah yang menghalalkan mengangkat pedang/senjata kepada penguasa dan kaum muslimin sebagai Khawaarij (meskipun punya platform berbeda seperti Murji’ah, Jahmiyyah, atau yang lainnya).

Dari Salaam bin Abi Muthii’, ia berkata:

رَأَى أَيُّوبُ رَجُلا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، فَقَالَ: ” إِنِّي لأَعْرِفُ الذِّلَّةَ فِي وَجْهِهِ، ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ لِكُلِّ مُفْتَرٍ، قَالَ: فَكَانَ أَيُّوبُ يُسَمِّي أَصْحَابَ الأَهْوَاءِ خَوَارِجًا، وَيَقُولُ: إِنَّ الْخَوَارِجَ اخْتَلَفُوا فِي الاسْمِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفِ ”

“Ayyuub (As-Sikhtiyaaniy) pernah melihat seorang laki-laki dari pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah), lalu ia berkata : ‘Sesungguhnya aku mengetahui kehinaan di wajahnya’. Lalu ia membaca ayat : ‘Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kedustaan” (QS. Al-A’raaf : 152). Kemudian ia berkata : ‘Ini diperuntukkan bagi setiap orang yang melakukan kedustaan’. Ayyuub menamakan para pengikut hawa nafsu sebagai Khawaarij. Ia berkata : ‘Sesungguhnya Khawaarij berbeda-beda dalam nama, namun berkumpul di atas (penghalalan mengangkat) pedang” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnad-nya hal. 575 no. 1275, Al-Faryaabiy dalam Al-Qadar hal. 215 no. 375, dan Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 3/581 no. 2111; shahih].

Ketika orang Khawaarij menuduh Ahlus-Sunnah sebagai Murji’ah – dan ini adalah tuduhan jaman purba – , maka Harb Al-Kirmaaniy[1] dalam ushul ‘aqiidah yang dihimpunnya mengatakan:

وأما (الخوارج) : فإنهم يسمون أهل السنة والجماعة : (مرجئة) ، وكذبت الخوارج [في قولهم] ؛ بل هم المرجئة يزعمون أنهم على إيمان [وحق] دون الناس ومن خالفهم كفار

“Adapun Khawaarij, mereka menamakan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah sebagai Murji’ah. Khawaarij telah berdusta dalam perkataan mereka. Bahkan merekalah Murji’ah yang menyangka diri mereka di atas keimanan dan kebenaran sedangkan orang lain tidak. Siapa saja yang menyelisihi mereka adalah orang-orang kafir” [As-Sunnah min Masaaili Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy hal. 72 no. 117. Lihat juga perkataan yang sama dalam Thabaqaatul-Hanaabilah oleh Abu Ya’laa, 1/73].[2]

Mungkin inilah makna istilah kontemporer yang menjadi trend di lisan sebagian orang bodoh yang jago membeo : ‘Murji’ah ma’al-hukkaam’.[3] Yaitu, tidak memandang adanya ketaatan terhadap penguasa dan/atau membolehkan keluar ketaatan/memberontak dengan mengangkat senjata[4]. Ideologi trademark kelompok Khawaarij. Bedanya, Khawaarij mengiringi dengan pengkafiran, sedangkan Murji’ah tidak. Kemaksiatan perlawanan, pemberontakan, dan menumpahkan darah tidak dipandang Murji’ah sebagai faktor yang dapat mengurangi keimanan mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah setelah menyebutkan pandangan Khawaarij dalam perkara kemaksiatan berkata:

وعلى العكس المرجئة، قالوا: إذا فعل المؤمن كبيرة فهو مؤمن كامل الإيمان وإيمانه كإيمان جبريل وأبي بكر

“Dan sebaliknya, yaitu Murji’ah. Mereka katakan : Apabila seorang mukmin melakukan dosa besar, maka statusnya mukmin yang sempurna keimanannya. Imannya seperti iman Jibriil dan Abu Bakr” [Asy-Syarhul-Mumtii’, 4/293].

Oleh karenanya, mereka sangat ringan berbuat kemaksiatan.

Dari sisi ini, maka tepatlah jika dikatakan kepada Khawaarij : “Engkaulah yang justru Murji’ah”.

Semoga ada manfaatnya, wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[abul-jauzaa’ – ba’da ashar, somewhere, 18071438].

[1]    Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy Al-Handhaliy, salah satu murid utama Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Wafat tahun 280 H. Silakan baca biografi ringkas beliau disini.

[2]    Ada lagi tuduhan orang Khawaarij terhadap Ahlus-Sunnah sebagai Murji’ah hanya karena tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat. Maka, Abul-Fadhl ‘Abbaas bin Manshuur As-Saksakiy Al-Hanbaliy rahimahullah telah menyinggungnya semenjak ratusan tahun yang lalu:

و تُسَمِّيها المنصوريةُ – و هم أتباع عبد الله بن زيد – مرجئةً , لقولها : إن تارك الصلاة إذا لم يكن جاحدا لوجوبها مسلم على الصحيح من المذهب , و يقولون : هذا يؤدي إلى أن الإيمان عندهم قول بلا عمل

“Dan kelompok Manshuuriyyah – mereka adalah pengikut ‘Abdullah bin Zaid (salah satu pecahan Khawaarij – Abul-Jauzaa’) – menamakan Ahlus-Sunnah sebagai Murji’ah berdasarkan  pendapat mereka (Ahlus-Sunnah) : Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat apabila ia tidak mengingkari (kewajibannya) statusnya muslim berdasarkan yang shahih dari madzhab (Ahmad). Dan mereka (Manshuuriyyah) berkata : ‘Pendapat ini mengkonsekuensikan bahwa iman menurut mereka hanyalah perkataan saja tanpa amal” [Al-Burhaan fii Ma’rifati ‘Aqaaidi Ahlil-Adyaan, hal. 95-96].

[3]    Secara tidak sadar, mereka sedang membicarakan diri mereka sendiri. Namanya juga burung beo, tentu hanya pandai menirukan suara radio.

[4]    Ini satu sisi ekstrim kelompok Murji’ah dalam muamalahmereka terhadap penguasa. Sisi ekstrim yang lain adalah mereka berpandangan ketaatan mutlak terhadap penguasa meskipun penguasa tersebut bukan orang yang shalih. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وهذه طريقة خيار هذه الأمة قديما وحديثا وهى واجبة على كل مكلف وهى متوسطة بين طريق الحرورية وأمثالهم ممن يسلك مسلك الورع الفاسد الناشىء عن قلة العلم وبين طريقة المرجئة وأمثالهم ممن يسلك ملك طاعة الأمراء مطلقا وأن لم يكونوا أبرارا

“Dan inilah jalan terbaik umat ini, baik dahulu maupun sekarang, yang wajib bagi setiap mukallaf (untuk menempuhnya). Jalan ini adalah pertengahan antara (1) jalan yang ditempuh Haruuriyyah (Khawaarij) dan semisal mereka yang menempuh jalan wara’ yang rusak yang timbul dari minimnya ilmu; dengan (2) jalan yang ditempuh Murji’ah dan semisal mereka yang menempuh jalan ketaatan terhadap para penguasa secara mutlak, meskipun mereka (penguasa) bukan orang yang baik/shalih” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/508].

Ini jelas keliru, karena ketaatan terhadap penguasa itu hanya pada yang ma’ruuf (sesuai dengan syari’at), sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam maksiat. Ketaatan hanya pada yang ma’ruuf (sesuai syari’at)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7257 dan Muslim no. 1840].

Abu Al-Jauzaa’ : di 15.44

Advertisements