Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Ketiga [3/3]

PRINSIP KETIGA
Mengagungkan Tauhid Dan Memberantas Syirik

  • Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid asma wa shifat adalah mengimani nama dan sifat Allah yang telah disebutkan Al-Qur’an dan hadits yang shohih tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (pengingkaran), takyif (membagaimanakan), maupun tamtsil (penyerupaan).

Imam Syafi’i berkata:

نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الْقُرْآنُ, وَوَرَدَتْ بِهَا السُّنَّةُ، وَنَنْفِي التَّشْبِيْهَ عَنْهُ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ، فَقَالَ: (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ) [ الشورى: 11.]

“Kita menetapkan sifat-sifat ini yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan  As-Sunnah dan kita juga meniadakan penyerupaan sebagaimana Alloh meniadakan penyerupaan tersebut dari diri-Nya dalam firmanNya (yang artinya) : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya”.(QS.Asy-Syuro: 11).[1]

Imam Syafi’i juga berkata:

آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ, وَآمَنْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ وَمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ

“Saya beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan saya beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah sesuai maksud Rasulullah”.[2]

Imam Ahmad bin Abdul Halim berkata: “Apa yang dikatakan oleh Syafi’i ini adalah kebenaran yang wajib bagi setiap muslim untuk meyakininya. Barangsiapa yang meyakininya dan tidak menentangnya maka dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan akherat”.[3]

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Dalam ucapan Imam Syafi’i ini terdapat bantahan bagi ahli takwil (memalingkan arti) dan ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) karena keduanya tidak mengimani apa yang datang dari Allah dan rasulNya karena ahli takwil mengurangi dan ahli tamtsil menambah”.[4]

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dan telah diriwayatkan dari Ar-Robi’ (seorang murid senior Imam Syafi’i) dan beberapa sahabat seniornya yang menunjukkan bahwasannya beliau (Imam Syafi’i) menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits (yang menyebutkan) sifat-sifat Alloh seperti apa adanya tanpa takyif (membagaimanakan), tasybih (penyerupaan), ta’thil (pengingkaran) maupun tahrif (pengubahan) sesuai dengan metode salaf”.[5]

Imam Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat istiwa dalam surat Al-A’rof: 54: “Manusia dalam menyikapi masalah ini memiliki banyak pendapat, bukan di sini tempat untuk memaparkannya, hanya saja ditempuh dalam masalah ini jalan salaf shalih, Malik, al-Auza’i, Tsauri, Laits bin Sa’ad, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohawaih dan selain mereka dari para imam kaum muslimin dahulu hingga sekarang yaitu menjalankannya sebagaimana datangnya tanpa takyif (membagaimanakan), tasybih (penyerupaan), ta’thil (pengingkaran). Apa yang terlintas dalam benak orang-orang yang menyerupakan harus dibesihkan dari Allah karena Allah tidak ada yang menyerupaiNya sesuatupun, bahkan sebagaimana kata para imam –diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad guru Imam Bukhori- : “Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhlukNya maka kafir dan barangsiapa yang mengingkari sifat Allah yang ditetapkan maka kafir dan tidaklah menetapkan apa yang Allah sifatkan pada diriNya dan juga Rasulullah merupakan suatu penyerupaan”. Barangsiapa menetapkan ayat-ayat dan hadits shohih bagi Allah sesuai dengan kebesaran Allah dan mensucikan Allah dari segala cacat maka dia telah menempuh jalan petunjuk”.[6]

Berikut ini kita ambil dua contoh aqidah Imam Syafi’i dalam masalah ini:

1. Sifat Tinggi

Imam Syafi’i meyakini ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Imam al-Baihaqi berkata setelah membawakan dalil-dalil yang banyak tentang masalah ini: “Atsar-atsar salaf tentang hal ini sangat banyak sekali. Dan inilah madzhab dan keyakinan Imam Syafi’i”.[7]

Imam Syafi’i berdalil dengan hadits Mu’awiyah bin Hakam dalam beberapa kitabnya. Di antaranya beliau berkata:

وَأُحِبُّ  إِلَى أَنْ لاَ يَعْتِقَ إِلاَّ باَلِغَةً مُؤْمِنَةً, فَإِنْ كَانَتْ أَعْجَمِيَّةً فَوَصَفَتِ الإِسْلاَمَ أَجْزَأَتْهُ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِلاَلٍ ابْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ جَارِيَةً لِيْ كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ فَجِئْتُهَا وَفَقَدْتُ شَاةً مِنَ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ : أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسَفْتُ عَلَيْهَا وَكنُتْ ُمِنْ بَنِيْ آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأَعْتِقُهَا؟ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم (أَيْنَ اللهُ؟) فَقَالَتْ : فِي السَّمَاءِ فَقَالَ (مَنْ أَنَا؟) فَقَالَتْ : أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ : (فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ).

Saya suka agar tidak memerdekakan budak kecuali budak yang sudah baligh dan mukminah. Seandainya dia non arab kemudian bersifat Islam maka sudah mencukupi. Mengabarkan kepada kami Malik dari Hilal bin Usamah dari Atho’ bin Yasar dari Umar bin Hakam[8] berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.[9]

Imam Ad-Dzahabi berkata:

فَفِيْ الْخَبَرِ مَسْأَلَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: مَشْرُوْعِيَّةُ قَوْلِ الْمُسْلِمِ أَيْنَ اللهُ؟ وَثَانِيْهَا: قَوْلُ الْمَسْؤُوْلِ: فِيْ السَّمَاءِ. فَمَنْ أَنْكَرَ هَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ فَإِنَّمَا يُنْكِرُ عَلَى الْمُصْطَفَى صلى الله عليه وسلم

Dalam hadits ini terdapat dua masalah:

–      Pertama: Disyari’atkannya pertanyaan seorang muslim; Dimana Allah?[10]

–      Kedua: Jawaban orang yang ditanya: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi”[11].

Mari kita renungi ucapan berikut:

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ أَلْفُ دَلِيْلٍ أَوْ أَزْيَدُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Sebagian kawan senior Syafi’i mengatakan: “Dalam Al-Qur’an terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas makhluk dan Allah di atas hambaNya”.[12].

2. Sifat Turun

الْقَوْلُ فِي السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ أَصْحَابَنَا عَلَيْهَا أَهْلَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ  وَأَخَذْتُ عَنْهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.

“Pendapat dalam sunnah[13] (aqidah) yang saya yakini dan diyakini oleh kawan-kawanku ahli hadits yang saya bertemu dengan mereka dan belajar kepada mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali hanya Allah saja dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Allah di atas Arsy-Nya di langitNya dekat dengan para hambaNya sekehandak Dia dan Dia turun ke langit dunia sekehendakNya”.[14]

Aqidah beliau ini berdasarkan hadits yang mutawatir tentang sifat turunnya Allah:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”[15].

Demikianlah metode Imam Syafi’i dalam aqidah asma’ wa shifat, beliau menetapkan setiap nama dan shifat yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi yang shohih. Maka perluaslah kaidah ini dalam masalah-masalah lainnya yang serupa.[16] Dan perlu kita ingat bahwa bahasa dan sastra Imam Syafi’i adalah tinggi dan hujjah sebagaimana diakui oleh para pakar bahasa Arab[17], namun sekalipun demikian kita tidak mendapati beliau merubah dan memalingkan makna ayat dan hadits dari dhohirnya tanpa dalil. Maka fikirkanlah!!.

Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011


[1] Thobaqot Hanabilah 1/283-284 oleh Al-Qodhi Ibnu Abi Ya’la, Siyar A’lam Nubala 3/3293 oleh adz-Dzahabi, Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 121 oleh Ibnu Abdil Hadi, I’tiqad Imam Syafi’i hlm. 21 oleh al-Hakkari, Dan kitab aqidah Imam Syafi’i karya al-Hakkari ini betul-betul sah dari Imam Syafi’i. Barangsiapa yang menyangka bahwa penisbatan aqidah ini tidak sah maka dia salah. (Lihat Qa’idah Muhimmah Fima Dhohiruhu Ta’wil Min Sifat Robb hlm. 27 oleh Syaikh ‘Amr bin Abdul Mun’im).

[2] Dibawakan oleh Ibnu Qudamah dalam Dzammu Ta’wil hlm. 9 dan Lum’atul I’tiqod hlm. 36 –Syarh Ibnu Utsaimin-

[3] Ar-Risalah Al-Madaniyyah –Majmu Fatawa- 6/354.

[4] Syarh Lum’atil I’tiqod hlm. 37.

[5] Al-Bidayah wan Nihayah 5/694.

[6] Tafsir Al-Qur’anil Azhim 3/426-427.

[7] Al-Asma wa Shifat 1/517.

[8] Dalam sanad imam Malik tertulis “Umar bin Hakam” sebagai ganti dari “Mu’awiyah bin Hakam”. Para ulama’ menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan imam Malik. Imam As-Syafi’i berkata -setelah meriwayatkan hadits ini dari imam Malik- : “Yang benar adalah Mua’wiyah bin Hakam sebagaimana diriwayatkan selain Malik dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya”. (Ar-Risalah hlm. 7-8)

Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Demikianlah perkataan Malik dalam hadits ini dari Hilal dari Atha’ dari  Umar bin Hakam. Para perawi darinya (Malik) tidak berselisih dalam hal itu. Tetapi hal ini termasuk kesalahan beliau (Malik) menurut seluruh ahli hadits karena tidak ada sahabat yang bernama Umar bin Hakam, yang ada adalah Mu’awiyah (bin Hakam). Demikianlah riwayat seluruh orang yang meriwayatkan hadits ini dari Hilal. Mua’wiyah bin Hakam termasuk dari kalangan sahabat yang terkenal dan hadits ini juga masyhur darinya. Diantara ulama’ yang menegaskan bahwa Malik keliru dalam hal itu adalah Al-Bazzar, At-Thahawi dan selainnya”. (At-Tamhid 9/67-68 dan lihat pula Syarh Az-Zurqani (4/106) dan Tanwir Hawalik (2/140) oleh as-Suyuthi).

[9] Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Juz’ul Qiro’ah hlm. 70, Muslim dalam Shahihnya 537, Ahmad 5/448, Malik dalam Al-Muwatho’ 2/772, asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah no. 242 dll. Lihat takhrij secara luas tentang hadits ini, komentar ulama ahli hadits tentangnya dan pembelaan ulama terhadanya dalam buku “Di Mana Allah? Oleh Ust. Abu Ubaidah, hlm. 53-62. Lihat pula kitab khusus tentang hadits ini yaitu Ainallah? Difa’ an hadits Jariyah oleh Salim al-Hilali dan Takhilul Ainain bi Jawaz Su’al Ainallah bil’ Ain oleh Dr. Shaodiq bin Salim.

[10] Imam Abdul Ghoni al-Maqdisi berkata: “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya di Mana Allah setelah ketegasan Rasulullah yang bertanya Di Mana Allah?! (Al-Iqtishod fil I’tiqod hlm. 89 dan Tadzkirotul Mu’tasi hlm. 89-90 Syarh Dr. Abdurrozzaq al-Badr).

[11] Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Adzim (hal. 81 -Mukhtasar Al-Albani-)

[12] Majmu’ Fatawa 1/121, Bayanu Talbis Jahmiyyah 1/555.

[13] Dari ucapan ini dapat dipetik faedah bahwa istilah sunnah sering digunakan oleh salaf bermakna aqidah, sebagaimana istilah ahli hadits merupakan istilah yang sudah popular pada mereka yang semakna dengan istilah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Oleh karenanya, maka hendaknya bagi kita untuk menghidupkan nama ini, khususnya bagi kalangan para penuntut ilmu dan sejenis mereka. (Aqidah Imam Syafi’i –Jam’ul Funun- 2/12 oleh Dr. Muhammad bin Abdirrahman al-Khumais).

[14] Diriwayatkan oleh Syaikhul Islam al-Hakari dalam I’tiqod Imam Syafi’i hlm. 17, Abu Muhammad al-Maqdisi sebagaimana dalam Mukhtashor Al-Uluw hlm. 176. Dan disebutkan juga oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 122, Ibnu Qudamah dalam Itsbat Shifatil Uluw hlm. 124 dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 4/181-183.

[15] HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.

[16] Lihat secara luas Manhaj Imam Syafi’i fi Itsbatil Aqidah oleh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-‘Aqil, I’tiqad Imam Syafi’i oleh al-Hakari, Aqidah Imam Syafi’i oleh Dr. Abdurrahman al-Khumais.

[17] Lihat Manaqib Syafi’i 2/41-59 oleh al-Baihaqi dan Tawali Ta’sis hlm. 96-97 

Advertisements