Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Pertama [2/2]

PRINSIP PERTAMA

Pedoman Agama Adalah Al-Qur’an Dan Hadits Sesuai Pemahaman Salaf,
Bukan Akal Dan Filsafat

  • Imam Syafi’i tidak beragama dengan ilmu kalam

Islam tidak membutuhkan ilmu kalam sama sekali karena ilmu ini hanyalah berisi kejahilan, kebingungan, kesesatan dan penyimpangan[1]. Hal ini telah diakui oleh para pakar ahli kalam yang telah lama mendalami ilmu ini.

Imamul Haromain al-Juwaini, beliau berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kami sibuk dengan ilmu kalam. Seandainya saya tahu bahwa hasil ilmu kalam adalah seperti yang menimpa diriku, niscaya saya tidak akan menyibukkan diri dengan ilmu kalam”.[2]

Imam al-Ghozali juga menjelaskan dampak buruk ilmu kalam secara jelas lalu berkata: “Mungkin nasehat seperti ini kalau seandainya engkau mendengarnya dari seorang ahli hadits atau ahli sunnah tentu terbetik dalam hatimu bahwa “manusia adalah musuh apa tidak mereka ketahui’. Namun dengarkanlah hal ini dari seorang yang menyelami ilmu kalam dan berkelana panjang sehingga sampai kepada puncaknya ahli kalam”.[3]

Demikian juga Fakhruddin ar-Rozi, pakar ahli kalam, beliau pernah mengatakan:

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُوْلِ عِقَالُ                   وَأَكْثَرُ سَعْيِ الْعَالمَِيْنَ ضَلاَلُ

وَأَرْوَاحُنَا فِيْ وَحْشَةٍ مِنْ جُسُوْمِنَا       وَغَايَةُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُوْلَ عُمْرِنَا       سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيْهِ قِيْلَ وَقَالُوْا

Akhir dari mengedepankan akal hanyalah kemandegan

Kebanyakan usaha manusia adalah kesesatan

Ruh yang ada di badan kami selalu dalam kegundahan

Ujung dari dunia kami adalah kemurkaan

Kami tidak memetik hasil apa pun sepanjang umur

Selain hanya mengumpulkan kabar burung.[4]

Oleh karena itulah para ulama telah mengingatkan kepada kita agar waspada dan menjauhi ilmu ini sejauh-jauhnya[5]. Di antara deretan para ulama tersebut adalah Imam Syafi’i.[6]

Imam adzDzahabi berkata: “Telah mutawatir dari Imam Syafi’i bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti atsar (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih”.[7]

Ucapan Imam Syafi’i begitu banyak, di antaranya:

الْعِلْمُ بِالْكَلاَمِ جَهْلٌ

“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebodohan)”.[8]

Beliau juga berkata:

 

حُكْمِيْ فِيْ أَهْلِ الْكَلاَمِ أَنْ يُضْرَبُوْا بِالْجَرِيْدِ، وَيُحْمَلُوْا عَلَى الإِبِلْ، وَيُطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ، يُنَادَى عَلَيْهِمْ : هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلاَمِ

“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia kelilingkan ke kampung seraya dikatakan pada khayalak: Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat.”[9]

Imam as-Sam’ani berkata setelah membawakan ucapan-ucapan seperti ini: “Inilah ucapan Imam Syafi’i tentang celaan ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan terkalahkan”.[10].

Dan simaklah kisah menarik berikut yang dituturkan oleh muridnya, al-Muzani, katanya: “Bila ada seorang yang berjasa mengeluarkan apa yang melekat dalam pikiran dan hatiku tentang masalah tauhid maka Syafi’i adalah orangnya. Saya pernah datang kepadanya ketika beliau berada di Masjid. Tatkala saya berada di depannya, beliau mengatakan: “Ada suatu hal yang mengganjal dalam hatiku tentang masalah tauhid dan saya tahu bahwa tidak ada seorang yang berilmu sepertimu? Beliau akhirnya marah seraya mengatakan: Tahukah kamu di mana kamu sekarang? Saya menjawab: Ya. Beliau berkata: Ini adalah tempat Allah menenggelamkan Fir’aun, apakah rasulullah memerintahkan untuk bertanya tentang hal itu? Saya jawab: Tidak. Beliau bertanya lagi: Apakah para sahabat membicarakan hal itu? Saya jawab: Tidak. Beliau bertanya: Tahukah kamu berapa jumlah bintang di langit dan dari apa dia diciptakan? Saya jawab: Tidak. Beliau mengatakan: Suatu benda yang dapat kamu lihat dengan matamu saja kamu tidak mengetahui lantas kenapa kamu akan berbicara tentang ilmu penciptaNya? Kemudian dia bertanya lagi kepada masalah wudhu lalu saya salah, kemudian beliau memerincinya menjadi empat cabang masalah dan sayapun salah semua dalam menjawab, lalu beliau berkata: Suatu ibadah yang kamu butuhkan lima kali dalam sehari saja kamu belum mengilmuinya tetapi kamu ingin menyusahkan diri mempelajari ilmu Allah. Apabila terbesit lagi hal itu dalam hatimu maka ingatlah firman Allah:

وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqoroh: 163-164)

Maka jadikanlah makhluk sebagai bukti tentang Sang Kholiq (Pencipta) dan janganlah engkau memberatkan diri apa yang tidak dijangkau oleh akalmu”.[11]

Kesimpulan:

Dengan penjelasan beberapa point di atas, dapat kita ketahui bahwa Imam Syafi’i meniti metode salaf dalam beragama, beliau bersandar pada Al-Qur’an, hadits shahih dan ijma’ ulama sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ahli hadits, para salaf shalih, dan beliau dalam beragama tidak berpedoman kepada akal dan ilmu kalam/filsafat. Wallahu A’lam.

Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.


[1] Lihat tulisan al-Ustadz Armen Halim Naro “Filsafat Islam Konspirasi Keji” yang dimuat dalam Majalah Al Furqon edisi 2 Tahun 6 rubrik aqidah.

[2] Al-Mantsur Minal Hikayat was Sualat hlm. 51 oleh Al-Hafizh Muhammad bin Thohir al-Maqdisi.

[3] Ihya’ Ulumuddin 1/97.

[4] Lihat Dar`u Ta’arudh al-’Aql wan Naql 1/159-160 oleh Ibnu Taimiyah, Thabaqat asy-Syafi’iyah 2/82 oleh Ibnu Qadhi Syuhbah.

[5] Al-Hafizh as-Suyuthi menyebutkan tiga alasan di balik larangan ulama salaf untuk mempelajari ilmu kalam: Pertama: Ilmu kalam merupakan faktor penyebab kebid’ahan. Kedua: Ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadits serta ulama salaf. Ketiga: Merupakan sebab meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah. (Lihat Shonul Manthiq hlm. 15-33).

[6] Lihat tentang peringatan para ulama tentang ilmu kalam dan ahli kalam secara panjang dalam kitab Dzammul Kalam wa Ahlihi oleh Imam al-Harowi dan Shounul Mantiq oleh al-Hafizh as-Suyuthi.

[7] Mukhtashor Al-Uluw hlm. 177.

[8] Hilyatul Auliya’ 9/111.

[9] Manaqib Syafi’i al-Baihaqi 1/462, Tawali Ta’sis Ibnu Hajar hal. 111, Syaraf Ashabil Hadits al-Khathib al-Baghdadi hal. 143. Imam adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam Nubala’ 3/3283: “Ucapan ini mungkin mutawatir dari Imam Syafi’i”.

[10] Al-Intishor li Ashabil Hadits hlm. 8.

[11] Siyar A’lam Nubala’ 3/3283 oleh adz-Dzahabi.


Advertisements