Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i dalam Bergama :Prinsip Keenam [1/2]​

PRINSIP KEENAM

Persatuan Dan Perselisihan

“Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”. [1]

Imam Syafi’i Menyeru Kepada Persatuan

Persatuan adalah sesuatu yang sangat ditekankan dan dianjurkan dalam Islam. Namun perlu diketahui bahwa persatuan di sini adalah persatuan di atas aqidah yang sama, bukan persatuan yang sekadar dalam slogan saja tetapi pada hakekatnya hati mereka bercerai berai. Oleh karenanya, perlu diperhatikan beberapa hal berikut untuk mempersatukan umat:

1. Memperbaiki aqidah dari noda-noda syirik.

2. Mendengar dan ta’at kepada para pemimpin, karena memberontak kepada mereka akan menyebabkan kekacauan.

3. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dalam menyelesaikan persengketaan.

4. Mendamaikan antara manusia yang bersengketa dan bertengkar.

5. Memerangi para pemberontak yang ingin memecah belah persatuan. [2]

Dan Imam Syafi’i sangat menanamkan beberapa hal di atas sebagai bentuk usaha persatuan. Hal ini sangat diketahui oleh orang yang mempelajari kehidupan beliau. Di antara ucapan beliau dalam masalah ini adalah:

ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﺑِﻪِ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻓَﻘَﺪْ ﻟَﺰِﻡَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺘَﻬُﻢْ , ﻭَﻣَﻦْ ﺧَﺎﻟَﻒَ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﺑِﻪِ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺎﻟَﻒَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺘَﻬُﻢْ ﺍﻟَّﺘِﻲْ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻠُﺰُﻭْﻣِﻬَﺎ , ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺗَﻜُﻮْﻥُ ﺍﻟْﻐَﻔْﻠَﺔُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺔِ , ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔُ ﻓَﻼَ ﻳُﻤْﻜِﻦُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻛَﺎﻓَﺔًّ ﻏَﻔْﻠَﺔٌ ﻋَﻦْ ﻣَﻌْﻨَﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻭَﻻَ ﺳُﻨَّﺔٍ ﻭَﻻَ ﻗِﻴَﺎﺱٍ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Barangsiapa berpendapat sesuai dengan jama’ah kaum muslimin maka berarti dia berpegang kepada jama’ah mereka, dan barangsiapa yang menyelisihi jama’ah kaum muslimin maka dia menyelisihi jama’ah yang dia diperintahkan untuk mengikutinya. Sesungguhnya kesalahan itu ada dalam perpecahan, adapaun jama’ah maka tidak mungkin semuanya bersatu menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, dan qiyas insya Alloh”. [3]

Para ulama Syafi’iyyah mengikuti wasiat yang mulia ini, seperti wasiat Imam ash-Shabuni: “Saya wasiatkan kepada kalian agar menjadi umat yang bersaudara dalam kebaikan, saling tolong-menolong, berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan tidak berpecah belah, dan mengikuti jalan para ulama umat ini seperti Malik bin Anas, Syafi’i, Tsauri, Ibnu Uyainah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, Yahya bin Yahya dan selain mereka dari ulama agama Islam, semoga Allah meridhoi mereka semua dan menjadikan kita semua bersama mereka dalam surgaNya”. [4] pemimpin dan melarang memberontak mereka

Salah satu kita menuju persatuan dan mencegah perpecahan yang sangat inti adalah taat kepada pemimpin dan tidak memberontak mereka. Inilah yang ditanamkan oleh Imam Syafi’i dan murid-muridnya.

Imam Syafi’i juga berkata:

‏( ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﻓﺮﺩﻭﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ‏) ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﻫُﻢْ ﻭَﺃُﻣَﺮَﺍﺅُﻫُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃُﻣِﺮُﻭْﺍ ﺑِﻄَﺎﻋَﺘِﻬِﻢْ

“Kalau kalian berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikan kepada Allah” Yakni –wallahu A’lam- mereka dan para pemimpin mereka yang diperintahkan untuk ditaati oleh mereka”. [5]

Dalam ucapan ini, beliau menegaskan bahwa para pemimpin itu harus ditaati, tapi tentunya hal itu selain dalam kemaksiatan, sebab tidak ada ketaatan dalam hal maksiat kepada Allah. [6]

Imam Syafi’i berkata dalam wasiatnya:

ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊُ ﻷُﻭْﻟِﻲ ﺍﻷَﻣْﺮِ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣُﻮْﺍ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻻَﺓُ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻻَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﺎﻟﺴَّﻴْﻒِ

“Dan hendaknya taat kepada pemimpin selagi mereka masih shalat dan mencintai mereka dan tidak memberontak mereka”. [7]

Beliau juga menganjurkan kepada kita untuk mendoakan kebaikan untuk para pemimpin:

ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﺎﻟﺴَّﻴْﻒِ

“Dan hendaknya mendoakan kebaikan bagi para pemimpin kaum muslimin dan tidak memberontak mereka”. [8]

Bahkan beliau menjadikan ini sebagai aqidah karena beliau mengatakan setelah itu: “Barangsiapa yang menyelisihi hal ini (aqidah ini) maka dia telah menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah”. [9]

Murid beliau al-Muzani juga berwasiat: “Dan hendaknya taat kepada pemimpin dalam kebaikan dan menjauhi dalam kemaksiatan”. [10]

Oleh karenanya kita dianjurkan mendoakan baik pemimpin dan membantu beban berat amanat para pemimpin, karena memimpin manusia itu bukan pekerjaan ringan. Imam Syafi’i sendiri mengatakan:

ﺳِﻴَﺎﺳَﺔُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺳِﻴَﺎﺳَﺔِ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﺏِ

“Mengatur manusia itu lebih berat daripada mengatur binatang”. [11]

Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011

[1] Al-Fathur Robbani 6/2847-2848 oleh asy-Syaukani.

[2] Al-Ajwibah Mufidah hlm. 130-131 oleh Dr. Shalih al-Fauzan.

[3] Ar-Risalah hlm. 475-476.

[4] Wasiat Imam Ash-Shobuni hlm. 70.

[5] Ar-Risalah hlm. 80.

[6] Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam Syarh Riyadhus Sholihin 3/652-656: “Perintah pemerintah terbagi menjadi tiga macam:

1. Perintah yang sesuai dengan perintah Allah seperti sholat fardhu, maka wajib mentaatinya.

2. Perintah yang maksiat kepada Allah seperti cukur jenggot, maka tidak boleh mentaatinya.

3. Perintah yang bukan perintah Allah dan bukan juga maksiat kepada Allah seperti undang-undang lalu lintas, undang-undang pernikahan dan sebagainya yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka majib ditaati juga, bila tidak mentaatinya maka dia berdosa dan berhak mendapatkan hukuman setimpal.

Adapun anggapan bahwa tidak ada ketaatan kepada pemimpin kecuali apabila sesuai dengan perintah Allah saja, sedangkan peraturan-peraturan yang tidak ada dalam perintah syari’at maka tidak wajib mentaatinya, maka ini adalah pemikiran yang bathil dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah”.

[7] Diriwayatkan oleh Al-Hakkari dalam I’tiqod Imam Syafi’i hlm. 16 dan Abdul Ghoni bin Abdul Wahid al-Maqdisi sebagaimana dalam Al-Amru bil Ittiba’ hlm. 313 oleh as-Suyuthi.

[8] I’tiqod Imam Syafi’i hlm. 18 oleh al-Hakkari.

[9] Idem hlm. 18

[10] Syarhus Sunnah hlm. 86.

[11] Tawali Ta’sis hlm. 134 oleh Ibnu Hajar.

Advertisements