RINGKASAN TENTANG APA ITU MURJI’AH?

Kedatangan Syaikh Ali Hasan Al Halabi hafizhahullah kemarin membuat orang-orang yang berseberangan dengannya menuduh beliau adalah seorang irja’ (murji’ah). Secara lebih besar lagi mereka menuduh bahwa dakwah salafiyah adalah dakwah murji’ah, bermanhaj murji’ah. Namun apakah mereka faham apa itu murji’ah?

Apa definisi murji’ah?

Al-Irja` menurut bahasa memiliki beberapa arti, yaitu: harapan, takut, mengakhirkan, dan memberikan harapan.

Al-Irja` dengan makna harapan, seperti pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

ﻭَﺗَﺮْﺟُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺮْﺟُﻮﻥَ

Dan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. (an-Nisaa`/4:104), maknanya, adalah kalian memiliki harapan kepada Allah yang tidak dimiliki oleh mereka.

Al-Irja` dengan makna takut, seperti pada firman-Nya:

ﻣَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﺮْﺟُﻮﻥَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻗَﺎﺭًﺍ

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? (Nuh/71:13), maknanya, adalah mengapa kalian tidak takut terhadap adzab Allah.

Sedangkan al-Irja` dengan makna mengakhirkan, seperti pada firman-Nya:

ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺃَﺭْﺟِﻪْ ﻭَﺃَﺧَﺎﻩُ

Beri tangguhlah ia dan saudaranya… [al-A’raaf: 111].

Makna arjih di sini, ialah akhirkanlah.[Lihat al-Milal wan Nihal (hal. 139) dan Firaq Mu’ashirah (III/1071-1072))]

Adapun al-Irja` menurut istilah, adalah mengakhirkan amal dari nama iman.[Lihat al-Farqu Bainal Firaq (hal. 151) dan Wasathiyyah Ahlis Sunnah (hal. 294))]

Sedangkan Murji’ah adalah firqah sesat yang berpendapat dan meyakini, bahwa amal tidak masuk dalam nama iman, dan bahwasanya kemaksiatan tidak membahayakan iman seseorang, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat terhadap kekafiran seseorang.[Lihat an-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts (II/206) oleh Imam Ibnul Atsîr rahimahullah.]

AWAL MUNCULNYA MURJI`AH

Awal munculnya kelompok bid’ah Murji`ah, ialah setelah terjadinya fitnah Ibnul-Asy’ats pada tahun 83 H. Yang pertama kali mengatakan tentang Irja` (mengakhirkan amal dari iman), ialah Dzarr bin ‘Abdullah al-Murhabi al-Hamdani (wafat sebelum tahun 100 H). Kemudian, setelah itu muncul pendapat yang mengatakan bahwa iman hanya sebatas perkataan saja. Dan yang pertama kali mengatakannya, ialah Hammad bin Sulaiman (wafat 120 H). Dia adalah syaikhnya Abu Hanifah[Lihat Dirâsât fil Ahwâ’ (hal. 248)]

MURJI`AH TERBAGI MENJADI BEBERAPA KELOMPOK

1. Jahmiyyah Murji`ah.

Mereka adalah yang mengatakan bahwasanya iman sebatas pengertian atau pengetahuan saja. Dan sebagian ulama Salaf telah mengkafirkannya dengan sebab kejahmiyyahan mereka.

2. Al-Karrâmiyyah.

Mereka adalah yang membatasi iman hanya pada perkataan dengan lisan tanpa keyakinan dalam hati.

3. Murji`ah Fuqaha`.

Mereka adalah yang mengatakan, iman itu keyakinan dalam hati dan perkataan dengan lisan. Namun mereka mengeluarkan amal dari nama iman.

4. Al-Asya’irah (al-Asy`ariyyah).

Mereka adalah yang mengatakan bahwa iman hanya sebatas pembenaran saja.

Mereka semua berada di dalam kesesatan, meskipun berbeda-beda tingkat kesesatannya.[Lihat Majmû’ Fatâwa (VII/543-548) dan Mujmal Masâ-il Îmân (hal. 51-52).]

sumber: http://almanhaj.or.id/content/2346/slash/0/

hakikat-murjiah-menurut-ahlus-sunnah-hizbiyyun-dan-harakiyyun/

Murji’ah menurut para Ulama

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata : “Adapun Murji’ah merekamengatakan iman hanyalah ucapan tanpa amal per buatan, barangsiapa yang bersyahadat Laa ilaha illa Allohu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu maka dia telah sempuma keimanannya. Imannya seperti imannya Jibril dan para malaikat meskipun dia membunuh (orang yang haram darahnya-pent) dia tetap dikatakan sebagai mukmin, dan meskipun dia meninggalkan mandi janabat serta tidak sholat. Mereka juga menghalalkan darah kaum muslimin. “ [Syarhu Ushul I’tiqod Ahli as-Sunnah wal Jama’ah (III/1071) karya al-Lalika`i.]

Waki’ bin Jarroh rahimahullahu berkata “Ahlu Sunnah mengatakan bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Adapun Murji’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan belaka tanpa perbuatan. Sedangkan Jahmiyah mengatakan iman hanyalahma’rifah (pengenalan).” [Syarhu Ushul I’tiqod Ahli as-Sunnah wal Jama’ah (III/1072 & no. 1873) karya al-Lalika`i.]

Fadhl bin Ziyad rahimahullahu berkata : “Pernah Imam Ahmad ditanya tentang Murji’ah, lalu beliau berkata : Murji’ah adalah kelompok yang menyatakan iman itu hanyalah ucapan.” [Kitabus Syari’ah (II/683 no. 302) karya Al-Ajurri.]

Muhammad bin Husein Al-Ajurri rahimahullahu berkata : “Berhati-hatilah kalian -rohimakumullahu- dari ucapan orang yang mengatakan : Sesungguhnya imanku seperti imannya Jibril dan Mikail. Dan barangsiapa yang mengatakan : Saya adalah orang mukmin di sisi Alloh dan saya adalah orang yang sempurna keimanannya, maka ini adalah ucapan kelompok Murji’ah.” [Kitabus Syari’ah (II/687 no. 305) karya Al-Ajurri.]

Syuraih bin Nu’man rahimahullahu berkata : “Aku pernah bertanya kepadaYahya bin Salim Ath-Thoo`i ketika kami berada di belakang maqom Ibrahim (di masjidil Haram Mekah-pent). Apa yang dikatakan oleh Murji’ah? Beliau menjawab, Mereka mengatakan : Thowaf di Ka’bah bukan termasuk keimanan.” [Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqotin Naajiyah (II/899 no. 1255 : Kitabul Iman) karya Imam Ibnu Baththoh.]

Abdurrohman bin Mahdi rahimahullahu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Syu’bah berkata kepada Syariik rahimahullahu : Mengapa engkau tidak memperbolehkan persaksian Murji’ah? Beliau menjawab : Bagaimana mungkin aku membolehkan persaksian kaum yang menyatakan bahwa sholat bukan termasuk keimanan?” [Kitabus Sunnah (I/334 n o. 692) karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.]

Berkata Imam Ibnu Baththoh Al-Akburi rahimahullahu (meninggal tahun 387 H) : “Berhati-hatilah kalian -rahimakumullahu- dari bermajlis dengan suatu kaum yang keluar dari agama ini, karena mereka mengingkari Al-Qur’an dan menyelisihi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta keluar dari ijma ulama kaum muslimin. Mereka adalah kelompok yang mengatakan : Iman adalah ucapan tanpa amal perbuatan.

Mereka juga mengatakan : Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla menurunkan kepada mereka kewajiban-kewajiban tapi tidak memerintahkan mereka untuk mengamalkannya dan tidak memadhorotkan mereka jika mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut. Dan Alloh melarang mereka dari hal-hal yang haram, dan manusia tetap menjadi orang yang beriman (secara sempurna-pent) meskipun melakukan hat-hal yang dilarang tersebut.

Sesungguhnya iman menurut mereka adalah mengakui kewajiban-kewajiban dan tidak perlu untuk dikerjakan dan mengetahui yang haram meskipun mereka halalkan. Mereka mengatakan : Sesungguhnya mengenal Alloh itu disebut sebagai iman yang tidak membutuhkan ketaatan. Sesungguhnya orang yang tahu tentang Alloh dengan hatinya maka dia adalah seorang mukmin dan orang yang beriman dengan lisannya serta mengakui dergan hatinya adalah orang yang sempurna ke­imanannya seperti Jibril. Iman itu tidak bertingkat dan tidak bertambah serta tidak berkurang. Tidak ada perbedaan antara manusia (dalam tingkatan keimanan-pent), orang yang rajin (ibadah) dan yang malas, yang taat dan yang berbuat maksiat semuanya sama…” [Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqotin Naajiyah (II/893 : Kitabul Iman) karya Imam Ibnu Baththoh.]

Beliau juga berkata : “Berhati-hatilah katian –rahimahumullahu- dari orang yang mengatakan saya mukmin di sisi Alloh dan saya mukmin yang sempurna imannya, dan berhati-hatilah dari orang yang mengatakan imanku seperti imannyaJibril dan Mikail. Sesungguhnya mereka adalah Murji’ah, kelompok sesat dan menyimpang dari agama…” [Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqotin Naajiyah (II/893 : Kitabul Iman) karya Imam Ibnu Baththoh.]

Berkata Imam Abdul Qohir bin Thohir Al-Baghdadi rahimahullahu(meninggal pada tahun 429 H) : “Mereka dinamakan Murji’ah karena mereka mengakhirkan amal perhuatan dari keimanan.” [Al-Farqu baynal Firoq (hal. 202) karya Al-Baghdadi.]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : “Murji’ah yang mengatakan iman adalah pembenaran dalam hati serta ucapan dengan lisan dan bahwasanya amal bukan termasuk iman, diantara mereka adalah fuqoha’ Kufah dan para ahli ibadah…”

Beliau juga berkata : “Adapun masalah istitsna’ (mengatakan insya Alloh,-ed)dalam Iman yaitu seseorang mengatakan : Saya mukmin insya Alloh, maka manusia ada tiga pendapat dalam hal ini : ada yang mewajibkan, ada pula yang mengharaman dan ada juga yang membolehkan kedua-duanya. Dan pendapat ketiga inilah yang paling benar. Yang mengharamkan istitsna’ adalah orang-orang Murji’ah dan Jahmiyah serta selain mereka dari orang-orang yang menyatakan bahwa iman itu satu (tidak bercabang,-pent)…” [Majmu’ Fatawa (VII/194).]

Imam Ibnu Atsir rahimahullahu berkata : “Murji’ah adalah suatu kelompok (sempalan) dalam Islam yang meyakini bahwa makiat tidaklah memadhorotkan keimanan sebagaimana tidak bermanfaat ketaatan bersama kekufuran. Mereka dinamakan Murji’ah karena keyakinan mereka bahwa Alloh mengakhirkanlme

njauhkan adzab dari mereka karena perbuatan maksiat…” [An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar (hal. 351) karya Ibnu Atsir.]

[sumber: http://abusalma.wordpress.com/2006/10/13/

dakwah-salafiyah-bukan-murji%E2%80%99ah-1/ ]

Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah (no. 959, 960, dan 961) dan Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah(n

o. 340) dari Al-Imama Ahmad bin Hanbalrahimahullah, bahwasannya ia pernah ditanya tentang Murji’ah, maka beliau menjawab :

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥَ ﻗَﻮْﻝٌ

“Yaitu siapa saja yang mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan (saja)”.

Diriwayatkan oleh Al-Laalikaaiy dalam As-Sunnah (no. 1837) dan Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah dari Al-Imaam Wakii’ bin Al-Jarraah Ar-Ruaasiy, bahwasannya ia berkata :

ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻳَﻘُﻮﻟﻮﻥَ : ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﻗَﻮﻝٌ ﻭَﻋَﻤَﻞٌ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺮْﺟِﺌَﺔُ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥُ ﻗَﻮﻝٌ ! ﻭﺍﻟْﺠَﻬْﻤِﻴَّﺔُ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮِﻓَﺔُ

“Ahlus-Sunnah berkata : iman adalah perkataan dan perbuatan. Murji’ah berkata : iman adalah perkataan. Dan Jahmiyyah berkata : iman adalah ma’rifah”.

Al-Imaam Al-Aajurriy rahimahullah (1/312) berkata setelah ia menyebutkan riwayat atsar di atas dan yang lainnya :

ﺍﺣْﺬَﺭُﻭﺍ ﺭَﺣِﻤَﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗَﻮْﻝَ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻥَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧَﻪُ ﻛَﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻭَﻣِﻴﻜَﺎﺋِﻴﻞَ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﻧَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻣُﺴْﺘَﻜْﻤِﻞُ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥِ ﻫَﺬَﺍ ﻛُﻠُّﻪُ ﻣَﺬْﻫَﺐُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻹِﺭْﺟَﺎﺀِ

“Berhati-hatilah – semoga Allah merahmati kalian – pendapat orang yang mengatakan : ‘sesungguhnya imannya seperti iman Jibriil dan Mikaaiil’; dan orang yang berkata : ‘aku mukmin di sisi Allah, dan aku adalah mukmin yang sempurna imannya’. Semuanya ini adalah madzhab para penganut irjaa’”.

[sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/01/

penjelasan-tentang-murjiah-diambil-dari.html ]

Secara kesimpulan Ciri-ciri Murji’ah adalah:

1. Mereka berpendapat, iman hanya sebatas penetapan dengan lisan, atau sebatas pembenaran dengan hati, atau hanya penetapan dan pembenaran.

2. Mereka berpendapat, iman tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak terbagi-bagi, orang yang beriman tidak bertingkat-tingkat, dan iman semua orang adalah sama.

3. Mereka mengharamkan istitsn` (mengucapkan ‘saya beriman insya Allah’) di dalam iman.

4. Mereka berpendapat, orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram (dosa dan maksiat) tidak berkurang imannya dan tidak merubahnya.

5. Mereka membatasi kekufuran hanya pada pendustaan dengan hati.

6. Mereka mensifati amal-amal kekufuran yang tidak membawa melainkan kepada kekufuran, seperti menghina dan mencela (Allah, Rasul-Nya, maupun syari’at Islam); bahwa hal itu bukanlah suatu kekufuran, tetapi hal itu menunjukkan pendustaan yang ada dalam hati.

[Lihat Murji`atul ‘Ashr (hal. 54)]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI’AH, MENURUT AHLUS-SUNNAH

Para ulama Ahlus-Sunnah telah menyebutkan sejumlah ciri yang dapat diketahui bahwa seseorang terlepas dari bid’ah Irja`, di antaranya ialah:

1. mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan.

Imam Ibnul-Mubarak t pernah ditanya: “Engkau berpendapat Irja`?,” maka ia menjawab,“Aku mengatakan bahwa iman itu perkataan dan perbuatan. Bagaimana mungkin aku menjadi Murji`ah?!”[23]

2. mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.

Imam Ahmad ditanya tentang orang yang mengatakan: “Iman itu bertambah dan berkurang,” maka ia menjawab,“Orang ini telah berlepas diri dari Irja`.”

3. mengatakan bahwa maksiat mengurangi iman dan membahayakannya.

4. mengatakan bahwa kekufuran dapat terjadi dengan perbuatan sebagaimana dapat terjadi dengan keyakinan dan perkataan. Dan ada di antara amal yang menjadi kufur karena melakukan amal tersebut tanpa keyakinan, dan menganggap halal perbuatan tersebut.

[Lihat Murji`atul ‘Ashr (hal. 60). Lihat poin I (Ciri-ciri Murji`ah Menurut Ahlul Bid’ah Terdahulu)]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI`AH MENURUT HIZBIYYUN DAN HARAKIYYUN

Di antara ciri seseorang terlepas dari Murji`ah menurut kaum Hizbiyyun dan Harakiyyun ialah:

1. mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan mutlak tanpa perincian yang telah disepakati oleh para salaf, Ahlus-Sunnah sejak dahulu sampai hari ini.

2. mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan. Dalam masalah ini terjadi khilâf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama Ahlus-Sunnah sejak dahulu hingga hari ini.

Menurut mereka, apabila seorang muslim berpendapat dengan dua pendapat tersebut, maka ia telah terlepas dari Murji`ah. [Lihat Murji`atul Ashr (hal. 62).]

[sumber: http://almanhaj.or.id/content/2345/slash/0/

ciri-ciri-murjiah-yang-paling-menonjol-ciri-ciri-seorang-terlepas-dari-murjiah/ ]

Bahaya dan Implikasi Buruk Murji’ah

Melihat pengingkaran dan peringatan keras para ulama diatas, sudah seharusnya kita berhati-hati terhadapa bahaya yang muncul dari kebid’ahan Murji`ah ini dan menjelaskan bahaya dan dampak buruknya terhadap umat. Khususnya di zaman kiwari ini dikala umat islam jauh dan bodoh terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Diantara bahaya dan dampak buruknya adalah:

Sebagai satu kebid’ahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidahkaum muslimin dapat memporak-porand

akan persatuan dan kesatuannya. Sebab kebid’ahan bila muncul dan berkembang dalam tubuh umat islam akan menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka. H

al ini karena pelaku kebid’ahan akan membela kebid`ahanya, padahal Sunnah Rasulullah Shallallahu’ala

ihi Wasallam pasti ada pendukung yang menegakkannya. Dengan demikian umat akan terpecah16.

Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam : ﺇِﻥَّ ﻣَﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻗُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺛِﻨْﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺇِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤِﻠَّﺔَ ﺳَﺘَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻠَﺎﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺛِﻨْﺘَﺎﻥِ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻫِﻲَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔُ

“Sesungguhnya orang sebelum kalian dari ahli kitab telah berpecah belah dalam 72 golongan dan sungguh umat ini akan pecah menjadi 73 golongan; 72 golongan di neraka dan satu disyurga yaitu al-Jama’ah” (HR Abu Daud).

membuat banyak hukum islam yang hilang yang merupakan satu sebab hilangnya syari’at dan membuat kerusakan pada keindahan islam yang merupakan sebab orang berpaling dan tidak mengagungkan syari’at Allah17. Ini merupakan salah satu dampak buruk kebid’ahan secara umum dan Murji`ah masuk didalamnya.

Telah berdusta atas nama Allah dan memiliki pemikiran yang telah dicela seluruh ulama.

Imam al-Ajuri (wafat tahun 360H) menyatakan, “Siapa yang memiliki pemikiran seperti ini (Irja`) maka telah berdusta atas nama Allah dan membawa lawannya kebenaran serta sesuatu yang sangat diingkari seluruh ulama, karena pemilik pemikiran ini menganggap bahwa orang yang telah mengucapkan La Ilaha Illa Allah maka dosa besar yang dilakukannya dan kekejian yang ia laksanakan tidak merusaknya sama sekali dan menurutnya orang yang baik dan takwa yang tidak melakukan sedikitpun hal-hal tersebut dengan orang yang fajir adalah sama. Ini jelas kemungkaran. Allah berfirman: ﺃَﻡْ ﺣَﺴِﺐَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺟْﺘَﺮَﺣُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻥْ ﻧَﺠْﻌَﻠَﻬُﻢْ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺳَﻮَﺍﺀً ﻣَﺤْﻴَﺎﻫُﻢْ ﻭَﻣَﻤَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺳَﺎﺀَ ﻣَﺎ ﻳَﺤْﻜُﻤُﻮﻥَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu” (QS. Al-Jatsiaat: 21) dan firman Allah Ta’ala :

ﺃَﻡْ ﻧَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻛَﺎﻟْﻤُﻔْﺴِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﺃَﻡْ ﻧَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﻛَﺎﻟْﻔُﺠَّﺎﺭِ

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?” (QS. Shaad: 28)

Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya.

membuka pintu untuk orang-orang rusak melakukan kerusakan dalam agama dan tidak merasa terikat dengan perintah dan larangan syari’at. Sehingga akan memperbesar kerusakan dan kemaksiatan dimasyarakat muslimin. Bahkan bukan tidak mungkin membuat mereka melakukan kekufuran dan kesyirikan dengan beralasan itu adalah amalan dan tidak merasa imannya berkurang dan hilang. Na’udzubillahi min al-Dhalal!

Menghilangkan unsur jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar.

Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik. Sebab menurut versi mereka, amal shalih tidak mempengaruhi keimanan seseorang sebagaimana amal maksiat tidak mempengaruhi imam.

Hal-hal ini disampaikan Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts ‘Ilmiyah wa al-Ifta` dalam fatwa mereka no. 21436 tanggal 8 Rabi’ ats-Tsani 1421H tentang fenomena pemikiran Murji`ah dizaman ini

[sumber: http://ustadzkholid.com/implikasi-buruk-

pemikiran-murjiah/ ]

Demikian rangkuman yang bisa saya kumpulan tentang Murji’ah, semoga bisa menambahkan wawasan.

Abu Aisyah

sumber: http://abuaisyah.com/2013/12/20/apa-itu-murjiah/
Sumber artikel Asli ;

https://mobile.facebook.com/AlFirqotunNajiyah/posts/400945393368761?_rdc=1&_rdr

Advertisements