​Hukum Paytren 

Disusun.Ustadz Ammi Nur Baits

[Dewan Pembina ;KonsultasiSyariah.com ,Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiq ]

___________________________________

 (Bagian 01)

Hukum Paytren Dalam Tinjaun Fikih Muamalah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara penyebab transaksi yang terlarang dalam islam adalah adanya gharar.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , beliau mengatakan,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺑَﻴْﻊِ ﺍﻟْﻐَﺮَﺭِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Mengenai pengertian gharar, dinyatakan oleh Syaikhul Islam dalam al-Qawaid an- Nuraniyah,

ﺍﻟﻐﺮﺭ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺠﻬﻮﻝ ﺍﻟﻌﺎﻗﺒﺔ

“Gharar adalah Jual beli yang tidak jelas konsekuensinya” ( al-Qawaid an-Nuraniyah , hlm. 116)

Inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidak jelasan) yang menyebabkan adanya mukhatharah (spekulasi, untung-untungan), baik pada barang maupun harga barang.

Karena itu, gharar mirip dengan judi. Sama-sama tidak jelas konsekuensinya. Bedanya, judi terjadi pada permainan, sementara gharar terjadi dalam transaksi.

Hanya saja, bahaya judi lebih besar, karena ini pemicu permusuhan dan saling membenci, serta menghalangi orang untuk mengingat Allah, sehingga diharamkan tanpa kecuali.

Allah berfirman tentang larangan judi,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮُ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴْﺴِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺏُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺯْﻟَﺎﻡُ ﺭِﺟْﺲٌ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻓَﺎﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﻩُ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ . ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻮﻗِﻊَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻭَﺓَ ﻭَﺍﻟْﺒَﻐْﻀَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴْﺴِﺮِ ﻭَﻳَﺼُﺪَّﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻦِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﻨْﺘَﻬُﻮﻥَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) . (QS. al-Maidah: 90 – 91)

Contoh bentuk gharar, ada orang masuk pemancingan, diminta bayar 100rb untuk memancing selama 1 jam. Dengan ketentuan, pelanggan hanya diberi hak untuk memancing di empang selama 1 jam, dapat ikan maupun tidak, jika sudah habis waktu 1 jam, dia tidak boleh mancing.

Dalam kasus pemancingan ini, tidak jelas yang diperjual-belikan. Pelanggan membayar 100rb, hanya membeli peluang untuk bisa mendapatkan ikan. Jika pelanggan mendapat banyak ikan, dia untung sementara pemilik empang bisa rugi besar. Sebaliknya, ketika pelanggan tidak dapat ikan, dia rugi dan pemilik empang yang untung.

Sebagaimana transaksi riba, transaksi yang mengandung mukhatharah dan gharar hukumnya dilarang sekalipun dilakukan saling ridha.

Di masa silam, ada transaksi ba’i al-hasha, ba’i al-munabadzah, dan ba’i al-mulamasah , yang ini semua dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena unsur ghararnya besar.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋَﻦْ ﺑَﻴْﻊِ ﺍﻟْﻐَﺮَﺭِ ﻭَﺑَﻴْﻊِ ﺍﻟْﺤَﺼَﺎﺓِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar dan jual beli al-hashah .”

Turmudzi menyebutkan diantara bentuk ba’i al-hashah , penjual menyampaikan kepada pembeli, nanti jika saya melemparkan kerikil ini kepadamu, maka transaksi jual beli sah. (Jami’ Turmudzi penjelasan hadis no. 1275). Sehingga transaksi dilakukan bukan karena alasan sama-sama ridha, sesuai pilihan. Tapi karena untung-untungan.

Demikian pula mulamasah, transaksi jual beli dengan acuan sentuh. Jika menyentuh, beararti membeli. Atau

munabadzah, dengan cara melemparkan barang yang dijual ke calon konsumen. Siapa yang kena lemparan barang, sama dengan beli. Semua transaksi ini murni untung-untungan, sehingga dilarang oleh Syariat. Meskipun mereka melakukannya saling ridha. ( al-Gharar fil Uqud , Dr. Shidiq Muhammad Amin, hlm. 16).

Kemudian, bentuk gharar lainnya yang dilarang oleh Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jual beli ijon. Jual beli buah yang ada di pohon, sebelum layak untuk dipanen. Sehingga ada dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh penjual dan pembeli. Jika buahnya banyak yang utuh, bisa dipanen, maka pembeli untung dan penjual merasa dirugikan karena harga jualnya murah. Sebaliknya ketika buahnya banyak yang rusak, pembeli dirugikan dan penjual untung besar. Karena andai buah ini tidak segera dia jual, dia akan mengalami gagal panen.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺑَﻴْﻊِ ﺍﻟﺜِّﻤَﺎﺭِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺰْﻫِﻰَ . ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﺰْﻫِﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺤْﻤَﺮَّ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﻨَﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺓَ ، ﺑِﻢَ ﻳَﺄْﺧُﺬُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﺎﻝَ ﺃَﺧِﻴﻪِ ‏»

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual buah sampai layak untuk dipanen. Beliau ditannya, ‘Apa tanda kelayakan dipanen?’ jawab beliau, “Sampai memerah.” Lalu beliau bersabda,

“Bagaimana menurut kalian, jika Allah mentaqdirkan buahnya tidak bisa diambil? Bagaimana bisa penjual mengambil harta temannya?” (HR. Bukhari 2198 & Ibnu Hibban 4990).

Jual beli ijon dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ghararnya besar. Meskipun penjual dan pembeli melakukannya atas dasar saling ridha. Namun keberadaan ridha tidak cukup. Karena yang menjadi masalah bukan di adanya pemaksaan terhadap pelaku akad, tapi di objek transaksi yang tidak jelas.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa memahami, ada 2 unsur yang menyebabkan gharar dilarang dalam transaksi,

[1] Adanya ketidakjelasan dalam objek akad. Pembeli hanya mendapat peluang, yang itu bisa terjadi dan bisa tidak terjadi.

[2] Di sana ada pihak yang mendapat keuntungan dalam akad, di atas kerugian orang lain (lawan akadnya). Sehingga ketika transaksi ini dilakukan, bisa dipastikan satu pihak mendapat keuntungan sementara pihak yang satu dirugikan.

Gharar Dalam MLM

Ketika multi level marketing semakin semarak, banyak ulama mempermasalahkan. Karena sebagian besar MLM hanya menitik beratkan pada perolehan downline dan tidak mementingkan produk. Karena itulah, dalam MLM yang menerapkan sistem ini, member yang bisa mendatangkan banyak downline namun sedikit membeli produk, dinilai lebih produktif dibadingkan member yang banyak membeli produk, namun tidak memiliki downline. Ukuran produktifitas downline tidak diukur dari banyaknya belanja produk, tapi dari kemampuan dia bisa menarik downline.

Diantara bukti paling nyata bahwa produk bukan tujuan utama dalam sistem ini, andai ada orang yang membeli produk, namun tidak ada peluang fee untuk mendapatkan downline, masyarakat tidak akan tertarik. Karena tidak sebanding antara harga dengan manfaat produk yang dibeli.

Dalam kajian Fiqh Mualamah Maliyah, terdapat satu kaidah,

ﺍﻟﻘﺼﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻮﺩ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ

“Niat dalam akad itu diperhitungkan”

Ibnul Qoyim menjelaskan,

ﻭﻗﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺪﻣﻬﺎ ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻘﺎﺻﺪ ﻭﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩﺍﺕ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﺮﻓﺎﺕ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺍﺕ ﻛﻤﺎ ﻫﻲ ﻣﻌﺘﺒﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻘﺮﺑﺎﺕ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺍﺕ … ﻓﺎﻟﻘﺼﺪ ﻭﺍﻟﻨﻴﺔ ﻭﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﺑﺠﻌﻞ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺣﻼﻻً ﺃﻭ ﺣﺮﺍﻣﺎً ﻭﺻﺤﻴﺤﺎً ﺃﻭ ﻓﺎﺳﺪﺍً ﺃﻭ ﻃﺎﻋﺔ ﺃﻭ ﻣﻌﺼﻴﺔ

Kaidah dalam syariah yang tidak boleh ditiadakan, bahwa tujuan dan keyakinan itu ternilai dalam aktivitas muamalah dan transaksi… maksud, niat, dan keyakinan menentukan status halal dan haram, sah dan tidak sah, dinilai taat atau maksiat. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/96)

Bagian ini perlu kita catat, karena hukum suatu akad juga dipengaruhi tujuan dan maksud pelaku.

Al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami – lembaga resmi kajian fiqh di bawah Rabithah Alam Islamiyah (Muslim World League) dalam muktamarnya yang diselenggarakan di Sudan Rabiul Akhir 1424 pernah mengeluarkan keputusan mengenai sistem MLM yang pernah diterapkan oleh PT Biznas (Sebuah perusahaan yang menerapkan sistem MLM dalam pemasarannya di Uni Emirat),

Sebelum berfatwa, mereka menyebutkan pertimbangan,

ﺃﻭﻻً : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻨﺘﺞ ﻓﻲ ﺷﺮﻛﺎﺕ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻖ ﺍﻟﺸﺒﻜﻲ ﻟﻴﺲ ﻣﻘﺼﻮﺩﺍً ﻟﻠﻤﺸﺘﺮﻛﻴﻦ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﺍﻟﺪﺍﻓﻊ ﺍﻟﻤﺒﺎﺷﺮ ﻟﻼﺷﺘﺮﺍﻙ ﻫﻮ ﺍﻟﺪﺧﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺼﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻈﺎﻡ .

ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﺍﻟﺸﺮﻛﺔ ﻫﻮ ﺑﻨﺎﺀ ﺷﺒﻜﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﺮﺍﺩ ‏( ﻓﻲ ﺷﻜﻞ ﻣﺘﻮﺍﻟﻴﺔ ﻫﻨﺪﺳﻴﺔ ﺃﺳﺎﺳﻬﺎ ﺍﺛﻨﺎﻥ ‏) ﺗﺘﺴﻊ ﻗﺎﻋﺪﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﺷﻜﻞ ﻫﺮﻡ، ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺤﻆ ﻓﻴﻪ ﻫﻮ ﻗﻤﺔ ﺍﻟﻬﺮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺘﻜﻮﻥ ﺗﺤﺘﻪ ﺛﻼﺙ ﻃﺒﻘﺎﺕ، ﻭﺗﺪﻓﻊ ﻓﻴﻪ ﻗﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﻬﺮﻡ ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻋﻤﻮﻻﺕ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﻮﻗﻬﻢ،

Pertama , produk yang terdapat pada perusahaan MLM, bukan tujuan utama bagi member. Namun yang menjadi tujuan dan motivasi utama bergabung dalam sistem MLM adalah fee yang didapatkan member ketika dia bergabung dengan MLM.

Tujuan utama perusahaan MLM yang beranggotakan banyak orang, dengan skema beruntun, sehingga bagian dasar terus meluas, hingga berbentuk piramida. Orang yang paling beruntung adalah yang berada di atas piramida, yang di bawahnya tersusun 3 level. Sementara mereka yang di bawah (downline) harus membayar kepada orang yang ada di atasnya (upline).

ﻓﺎﻟﻤﻨﺘَﺞ ﻟﻴﺲ ﺳﻮﻯ ﻭﺍﺟﻬﺔ ﺳﻠﻌﻴﺔ ﻣﻘﺒﻮﻟﺔ ﻟﻴُﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﺘﺮﺧﻴﺺ ﺍﻟﻘﺎﻧﻮﻧﻲ، ﺣﻴﺚ ﺗﻤﻨﻊ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﻮﺍﻧﻴﻦ ﺩﻭﻝ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺑﺮﻧﺎﻣﺞ ﺍﻟﺘﺴﻠﺴﻞ ﺍﻟﻬﺮﻣﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﻓﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻙ ﺭﺳﻮﻣﺎً ﻟﻤﺠﺮﺩ ﺍﻻﻧﻀﻤﺎﻡ ﻟﻠﺒﺮﻧﺎﻣﺞ ﺩﻭﻥ ﺗﻮﺳﻂ ﺃﻭ ﺳﻠﻌﺔ ﻳﺘﻢ ﺗﺪﻭﺍﻟﻬﺎ .

Produk hanya kamuflase agar bisa diterima, untuk mendapat legalitas secara undang-undang, mengingat banyak undang-undang di berbagai negara di dunia yang melarang sistem MLM, yang mengharuskan member untuk membayar ketika pendaftaran tanpa ada fasilitas dan produk yang bisa digunakan.

ﺛﺎﻧﻴﺎً : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻙ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻘﻖ ﺩﺧﻼً ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺗﻜﻮﻧﺖ ﺗﺤﺘﻪ ﺛﻼﺙ ﻃﺒﻘﺎﺕ، ﻭﺇﻥ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﻳﺎﺕ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻨﺎﺀ ﺍﻟﻬﺮﻣﻲ ﺩﺍﺋﻤﺎً ﻣﺨﺎﻃﺮﺓ ‏( ﻣﻌﺮﺿﺔ ﻟﻠﺨﺴﺎﺭﺓ ‏) ﻷﻧﻬﺎ ﺗﺪﻓﻊ ﻋﻤﻮﻻﺕ ﻗﻤﺔ ﺍﻟﻬﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻞ ﺃﻥ ﺗﺘﺒﻮﺃ ﻫﻲ ﺍﻟﻘﻤﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻤﻜﻨﻬﺎ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺑﺎﺳﺘﻘﻄﺎﺏ ﺃﻋﻀﺎﺀ ﺟﺪﺩ ﻟﻴﻜﻮّﻧﻮﺍ ﻣﺴﺘﻮﻳﺎﺕ ﺩﻧﻴﺎ ﺗﺤﺘﻬﻢ، ﻓﺘﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﻳﺎﺕ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪﺓ ﻫﻲ ﺍﻟﻤﻌﺮﺿﺔ ﻟﻠﺨﺴﺎﺭﺓ ﻭﻫﻜﺬﺍ

Kedua , member tidak akan bisa mendapat fee kecuali jika dia memiliki 3 downline di bawahnya. Sehingga 3 tingkat yang paling bawah dalam sistem piramida akan selalu ber-spekulasi (berhadapan dengan resiko rugi). Karena dia harus membayar komisi kepada yang di atasnya, dengan harapan dia akan menduduki posisi atas. Namun itu tidak mungkin, kecuali dengan menarik member-member baru, untuk menjadi downline dia. Selanjutnya, downlinenya yang akan menghadapi resiko rugi. (https://ar.beta.islamway.net/fatwa/31900/ ﺑﺰﻧﺎﺱ -ﻭﻣﺎ – ﻳﺸﺎﺑﻬﻬﺎ – ﻣﻦ – ﺷﺮﻛﺎﺕ – ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻖ – ﺍﻟﺸﺒﻜﻲ )

Kemudian ada juga fatwa dari Syaikh Dr. Sami Ibrahim as-Suwailim – Pimpinan Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk masalah Syariah di Bank ar-Rajihi – beliau memberikan keterangan cukup panjang seputar bisnis MLM. Diantara yang beliau sampaikan,

Sistem pemasaran dengan konsep jaringan berjenjang piramida, termasuk sistem yang disebutkan dalam pertanyaan, dibangun di atas prisip makan harta orang lain secara bathil dan menipu yang lain. Karena sistem berjenjang ini, tidak mungkin akan berkembang terus tanpa ujung. Ketika dia sudah berhenti, maka yang terjadi, ada pihak minoritas yang diuntungkan di atas kerugian mayoritas.
Lalu beliau melanjutkan,

ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻣﻨﻄﻖ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺮﻣﻲ ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﻋﻮﺍﺋﺪ ﻓﺎﺣﺸﺔ ﻟﻠﻄﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺎﺏ ﺍﻟﻄﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺮﻡ ، ﻓﺎﻟﻄﺒﻘﺎﺕ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﺧﺎﺳﺮﺓ ﺩﺍﺋﻤﺎً ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻓﺮﺽ ﻋﺪﻡ ﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﺒﺮﻧﺎﻣﺞ ، ﻭﻻ ﻳﻔﻴﺪ ﻓﻲ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻨﺘﺞ ، ﺑﻞ ﻫﺬﺍ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﺩﺍﺧﻼً ﺿﻤﻦ ﺍﻟﺤﻴﻞ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ

Dalam sistem pemasaran piramida, bersandar pada prinsip ada keuntungan yang kembali ke upline bersamaan dengan resiko kerugian downline. Downline akan selalu dirugikan, andaipun sistem ini tidak pernah mengalami saturasi. Dalam sistem ini keberadaan produk tidak signifikan. Namun dia hanya diikutkan dalam kamuflase yang terlarang.

Dari fatwa al-Majma al-Fiqhi al-Islami dan fatwa Dr. Sami as-Suwailim dapat kita simpulkan latar belakang mengapa MLM dipermasalahkan,

[1] Member yang hendak bergabung harus membayar senilai tertentu

[2] Dana yang disetorkan member, bukan untuk membeli produk, tapi agar bisa bergabung dalam sistem MLM

[3] Tujuan terbesar member bergabung adalah untuk mendapat fee ketika berhasil mendapatkan downline

[4] Untuk bisa mendapatkan downline, tidak bisa dipastikan, karena ini peluang pasar.

[5] Setiap member yang berada di bawah akan menghadapi resiko rugi, jika tidak bisa mendapatkan member

[6] Sistem piramida berjenjang akan mengalami saturasi, sehingga tidak lagi berkembang. Sehingga pada puncaknya, downline yang jumlah lebih banyak akan mengalami kerugian, sementara upline mendapat keuntungan.

Dalam akad muawadhah ( komersil ), agar tidak terjadi gharar, kita diajarkan rumus keseimbangan,

Apa yang kita bayarkan, harus seimbang dengan apa yang kita terima. Ketika yang kita bayarkan jelas, maka yang kita terima juga harus jelas. Jika dalam transaksi, yang kita bayarkan jelas, sementara yang kita terima tidak jelas, ada peluang terjadi dan tidak, maka hukumnnya gharar.

Bagaimana hasilnya jika kita terapkan persamaan ini dalam kasus MLM di atas?

Seseorang yang mendaftar menjadi member MLM dia membayar senilai tertentu, dan dia mendapat 2 hal: produk (yang bukan tujuan utama) dan Peluang dapat fee dengan mencari member baru (tujuan utama).

Jika kita rumuskan,

Artinya, ketika anda menjadi member, anda membayar sesuatu yang pasti. Dan anda mendapatkan 2 hal: produk, yang itu pasti tapi tidak terlalu diperhitungkan, dan peluang dapat downline, yang ini menjadi tujuan utama, namun tidak pasti. Sehingga yang terjadi, anda membayar sesuatu, namun anda hanya mendapat peluang. Dan itulah gharar.

Pelajaran dari Bisnis Afiliasi e-Book

Sekitar tahun 2004, masa sedang gencar-gencarnya ingin monetizing internet, penghuni dunia maya tiba-tiba tersihir dengan master Internet Marketing Joko Susilo. Dia berjualan e-book dengan sistem afiliasi. Untuk seukuran ebook, harganya cukup mahal (sekitar 250rb). Namun banyak orang rela beli, karena ada janji fee ketika bisa mereferensikan pembeli yang lain. Mereka yang beli akan mendapat ebook, referral duplikat web.

Jika ada orang lain yang beli dari referral kita, maka kita akan mendapat 50% – 50%, 125rb untuk Joko Susilo, 125rb untuk pemilik referral.

Ketika sudah mencapai saturasi, banyak netizen yang mulai sadar, sehingga pembeli terakhir, sama sekali tidak bisa mencari downline baru. Referral duplikat web tidak berfungsi. Para netizen penganut Joko merasa ditipu. Ada banyak komentar miring yang mereka arahkan ke Joko Susilo. Mereka menyesal.

Bagaimana dengan e-book-nya??

Mereka tidak butuh e-book ini. Hanya berisi tutorial yang hampir semuanya copas dari google. Konsumen merasa sangat tidak membutuhkan ebook itu. Mereka rela membeli, karena harapan bisa mendapat fee dari referral. Ketika ini tidak lagi berfungsi, Joko Susilo bisa kaya raya, di atas penderitaan para bawahannya.

Dan inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh =

muawadh …

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bercermin dari Bisnis Flexter

Bisnis ini berkembang 10 tahun yang lalu. Jual beli aplikasi untuk pulsa dan bayar-bayar dengan sistem berjenjang. Siapa yang bisa mereferensikan downline, dia mendapat fee.

Diantara iklan yang ditayangkan para penggiatnya,

Banyak orang tertarik untuk menjadi membernya, hingga sudah mencapai lebih dari 760.000 orang di seluruh Indonesia. Setiap harinya lebih dari 1.000 orang yang bergabung menjalankan bisnis FLEXTER.
Namun ketika mengalami titik jenuh (saturasi), bisnis ini ambruk. Itupun tidak sampai 4 tahun bertahan. Downline terbaru adalah pihak yang paling berduka. Karena dia tidak bisa memanfaatkan program yang telah dia bayar untuk mencari downline.

Sekali lagi, inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh =

muawadh …

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bagaimana dengan Paytren?

Insya Allah bersambung di artikel bagian 02…
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com

_______________________________________

Hukum PayTren (Bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Artikel sebelumnya baca: Hukum Paytren Bagian 1

Sebelumnya kita simak dulu penjelasan umum tentang paytren. Berikut salah satu broadcast tentang paytren,

Apa itu PayTren?

Aplikasi micropayment utk pembayaran listrik, isi pulsa, beli tiket, bayar speedy, bpjs, belanja online, belanja di alfamart, kirim uang dll, yang bisa di install pada smartphone android dan IOS.

Apa benefit menggunakan PayTren?

Mudah, murah, hemat, dpt cashback, bernilai ibadah / sedekah dan ada peluang bisnisnya.

Bagaimana cara menjadi mitra PayTren?

1. Mitra Pengguna : Harga lisensi 50 rb (menu transaksi pulsa & voucher game).

2. Mitra Pebisnis + Pengguna : Harga lisensi paling murah 350 rb & paling mahal 10.1 juta (menu transaksi all payment).

Cara mendapatkan uang di PayTren?

Ada dua cara :

1. Melayani pembayaran : listrik, leasing, bpjs, telpon, speedy, jual tiket pesawat dll. Anda dapat profit dr selisih harga jual & kulakan.

2. Menjual lisensi aplikasi PayTren ke banyak orang dg aneka fee marketing 75rb/orang, 25rb, 2rb dst.

■ Cara kerja PayTren?

1. Install aplikasi PayTren di android/IOS.

2. Beli kode lisensi/kode serial lewat orang yg menawarkan pada anda.

3. Gunakan aplikasi utk transaksi pribadi atau melayani umum utk mendapatkan profit.

4. Referensikan ke banyak orang utk menggunakan PayTren agar mendapatkan fee marketing yg besar.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas kita akan menyimpulkan transaksi akad pada paytren,

Transaksi Pertama , untuk mitra pengguna

Dalam situs resmi Paytren, dijelaskan mengenai fasilitas untuk mitra pengguna,

1. Mendapatkan nomor Identifikasi (nomor ID) kemitraan, username, pin transaksi dan deposit senilai Rp 15.000,00 (langsung setelah aktivasi berhasil )

2. Dapat menjalankan fitur dengan fungsi terbatas, yaitu hanya transaksi pembelian pulsa pra bayar dan voucher game melalui Aplikasi Android “PayTren” yang diperoleh dari PlayStore, Yahoo Messenger, Gtalk atau SMS

3. Mendapatkan cashback dari transaksi pribadi selama 10 hari sejak aktivasi

4. Log transaksi, riwayat transaksi, riwayat deposit, daftar harga dan info terbaru dapat dilihat di http://www.mytreni.com

5. Maksimal deposit Rp 100.000,00 per hari dan maksimal deposit mengendap Rp 1.000.000,00

6. Berlaku selamanya

Ketentuan lain sebagai mitra pengguna yang penting diperhatikan,

Dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.000,-/bulan (dipotong otomatis dari sisa deposit) terkecuali apabila mitra tersebut melakukan transaksi minimal 1 (satu) dalam bulan berjalan

Takyif Fiqh Transaksi Paytren dengan Mitra Pengguna

Jika kita perhatikan, pada posisi ini, statusnya sama dengan jual beli. Pihak developer Paytren menjual aplikasi yang dia sediakan. Dan menjual aplikasi hukumnya dibolehkan, sebagaimana menjual barang atau jasa layanan lainnya. Seperti yufid Inc. pernah membuat aplikasi complete quran berbayar di IOS.

Islam memasukkan hak atas karya ilmiah, hak terhadap merek dagang atau logo dagang dalam pengertian umum sebagai harta. Islam menganggap hak semacam ini memiliki nilai manfaat dan nilai komersil yang cukup berarti.

Dr. Nashir bin Muhammad al-Ghamidi menjelaskan, tindakan penyalah gunaan hak cipta yang tidak digratiskan dalam Islam dianggap pencurian, penipuan dan tindakan merugikan harta, hak dan kepemilikan orang lain.

( Himayaah al-Milkiyah al-Fikriyah Fi al-Fiqhil Islami , hal. 103)

Menimbang Peluang Menjadi Mitra Pengguna Paytren?

Meskipun sebatas jual beli aplikasi, daya tariknya tidak signifikan bagi pengguna. Karena dia hanya bisa melakukan transaksi pulsa dan voucher game. Aplikasi yang mungkin riil bisa dimanfaatkan hanya transaksi pulsa. Jika saya bayar 50rb, dan dijadikan deposit 15rb, berarti saya harus bayar ke Paytren 35rb.

Bagi orang yang perhitungan, tawaran ini mungkin kurang menarik,

[1] Menjadi member pengguna paytren, bararti sama dengan menjadi agen pulsa namun harus bayar 35rb. Sementara di luar, untuk bisa menjadi agen pulsa, bisa gratis. Hanya deposit saja.

[2] Cashback untuk transaksi pribadi hanya dijanjikan selama 10 hari sejak aktivasi.

Sangat kecil bisa dimanfaatkan. Selama 10hr kebutuhan pulsa pribadi tidak banyak.

Bisa saja orang menilai ini termasuk gharar (tidak jelas). Karena selama 10hr ini tidak jelas. Jika saya banyak bertransaksi, saya dapat cashback banyak, sebaliknya, ketika tidak bertransaksi, tidak ada cashback.

[3] Deposit saya akan selalu berkurang 1000/bln. ketika tidak bertransaksi

Sementara jadi agen pulsa di luar, deposit tidak berkurang, meskipun tidak dipakai transaksi.

Menimbang realita di atas, tentu sangat jarang orang yang tertarik hanya menjadi mitra pengguna Paytren.

Dengan kata lain, andai tidak ada kesempatan untuk mendapat fee mencari downline, tidak ada daya tarik yang signifikan bagi Paytren. Sehingga software ini bukan tujuan utama objek akad.

_________________________________

Hukum Paytren (Bagian 03)

Kita akan mengulang catatan di artikel sebelumnya tentang Paytren,

Bagaimana cara menjadi mitra PayTren?

1. Mitra Pengguna : Harga lisensi 50 rb (menu transaksi pulsa & voucher game).

2. Mitra Pebisnis + Pengguna : Harga lisensi paling murah 350 rb & paling mahal 10.1 juta (menu transaksi all payment).

■ Cara mendapatkan uang di PayTren?

Ada dua cara :

1. Melayani pembayaran : listrik, leasing, bpjs, telpon, speedy, jual tiket pesawat dll. Anda dapat profit dr selisih harga jual & kulakan.

2. Menjual lisensi aplikasi PayTren ke banyak orang dg aneka fee marketing 75rb/orang, 25rb, 2rb dst.

Baca Artikel: Hukum Paytren Bagian 1 dan Hukum Paytren Bagian 2

Takyif Fiqh Paytren Mitra Pebisnis

Menjadi mitra pebisnis, ada hak dan kewajiban yang berbeda dengan hak dan kewajiban mitra pengguna.

Kita akan lihat masing-masing lebih dekat,

Pertama , Kewajiban bagi mitra pebisnis Paytren,

[1] Untuk bisa menjadi mitra pebisnis, mitra harus biaya yang lebih mahal

[2] Untuk bisa menjual lisensi, mitra pebisnis harus membeli paket dengan harga yang beraneka ragam, tergantung dari jenis paketnya. Semakin mahal, semakin banyak jumlah lisensi yang diberikan.

Kedua , hak bagi mitra pebisnis

[1] Pihak pebisnis menjual lisensi Paytren ke konsumen yang baru, baik lisensi sebagai pengguna atau sebagai pebisnis

[2] Jika dia hanya melakukan pembayaran (tidak menjualkan atau mengajak orang memakai PayTren) maka hanya mendapatkan fee berupa cashback.

[3] Jika dia berhasil menjualkan atau mengajak orang memakai PayTren, mendapatkan bonus penjualan dan royalty cashback.

Di salah satu situs Paytren dibuatkan tabel sebagai

Di situs yang sama, dijelaskan sistem piramida berjenjang,

Jika Anda menjadi Pengguna dan terus menjadi Pebisnis yang ikut membantu perusahaan memasarkan PayTren dalam 1 bulan pertama Anda berhasil menjualkan atau mengajak orang memakai PayTren, minimal seminggu 1 orang saja selama 4 minggu (1 bulan) maka akan mendapatkan 4 Mitra. Yang artinya selain Anda mendapatkan bonus penjualan dan lainnya dari PayTren, maka Anda akan mendapatkan Royalti Cashback disetiap transaksi sebesar 11,51% disetiap transaksi atau dalam tabel diatas dalam transaksi pulsa Anda akan mendapatkan Rp 50 setiap Mitra, jadi jika setiap orangnya transaksi minimal per bulan 4x transaksi maka Anda akan mendapatkan 4 Mitra (Rp 50 x 4 transaksi) = Rp 800 di bulan pertama Anda menjadi Mitra Pebisnis.

Selanjutnya di bulan ke 2, jika ke 4 Mitra Anda sebut saja A, B, C, dan D menjalankan bisnis PayTren dan menduplikasi cara kerja Anda yaitu menjualkan paket PayTren per bulannya masing-masing bisa jual 4 paket atau 4 orang Mitra PayTren baru maka Anda akan mendapatkan Royalti di Cashback transaksi sebesar 4,6% di setiap Mitra-Mitra yang dibawah A, B, C, dan D atau Level ke 2 Anda yang melakukan transaksi. Atau dalam hal transaksi pulsa Anda akan mendapatkan Rp 20 dari transaksi mereka. Jadi di bulan ke 2, setiap mereka transaksi Anda akan mendapatkan Royalti Cashback 16 Mitra (Rp 20 x 4 transaksi) = Rp 1.280 di bulan ke dua dari semua mitra-mitra yang transaksi pulsa.

Paytren Menjual Peluang

Berdasarkan keterangan di atas, kita memahami bahwa pihak Paytren membedakan harga software saja dengan harga software + kemitraan. Bahkan harga peluang yang dijual Paytren berjenjang, mulai dari basic, silver,.. hingga titanium dengan harga yang beragam. Semakin mahal biaya yang kita bayarkan, semakin besar peluang yang diberikan.

Kita bisa perhatikan, sangat jelas pihak Paytren menjual peluang pasar. Semahal apapun biaya yang saya bayarkan, layanan dasar yang saya terima semua sama. Sementara potensi leadership, potensi Royalty cashback hanya akan saya dapatkan, jika saya bisa memiliki mitra di bawah saya. Dan potensi itu akan lebih besar lagi, jika mitra di bawah saya juga memiliki mitra bawahnya. Dan terus betambah, sejalan dengan pertambahan mitra-mitra berikutnya.

Jika kita terapkan rumus keseimbangan iwadh – muawadh 

Anomali Paytren

Untuk itulah, semangat para mitra pebisnis adalah mencari mitra di bawahnya. Karena bonus pembayaran listrik, leasing, bpjs, telpon, dst. sangat kecil. Hingga ada diantara mereka yang menawarkan kepada para kerabatnya, kawan-kawannya, tetangga-tetangganya, teman kerjanya dan siapapun yang berada di jangkauannya, untuk bisa menjadi mitra di bawahnya. Sehingga pada puncaknya, tidak akan ada yang menjadi konsumen untuk pembayaran listrik, leasing, bpjs, telpon, bpjs, atau pembayaran leasing, selain dirinya.

Dan ini jelas tidak normal. Seharusnya dalam kondisi normal, ketika saya memiliki software Paytren yang bisa saya gunakan untuk layanan pembayaran, saya akan tawarkan kepada kerabat saya, teman-teman kerja saya, dan siapapun yang berada di sekeliling saya untuk membeli pulsa lewat saya, beli tiket lewat saya, bayar rekening telpon, listrik, lewat saya.

Sebaliknya, saya tidak rela jika ada orang lain yang menjadi pesaing saya untuk menjadi agen pulsa, tiket pesawat, pembayaran listrik, dst. karena ini akan mengurangi potensi pasar saya.

Ini menunjukkan, layanan dasar yang diberikan Paytren, sama sekali bukan tujuan utama dalam akad. Namun yang menjadi tujuan utama para mitra pebisnis adalah bagaimana bisa mendapatkan downline. Di sinilah peluang saturasi pasti akan terjadi. Di saat banyak orang menjadi agen Paytren, maka downline akan kesulitan untuk mencari downline yang baru.

Jika saya berharap bisa memiliki banyak peluang, lalu saya membeli paket yang paling mahal 10,1 juta, namun sistem piramida Paytren telah mengalami saturasi, saya akan mengalami kesulitan untuk mencari downline. Bahkan bisa jadi, deposit yang saya miliki tidak banyak yang bisa saya manfaatkan. Karena sudah banyak orang di sekitar saya yang menggunakan Paytren. Mereka bisa beli pulsa sendiri, bayar listrik sendiri, bayar telpon sendiri, dst. harapan besar saya pupus tanpa bekas. Karena saya lebih mengharapkan peluang mendapat downline, dari pada menggunakan software Paytren untuk transaksi.

Peluang Cashback yang Kurang Menjanjikan

Benar saya bisa mendapat cahsback ketika saya betransaksi melalui Paytren, tapi nilainya terlalu kecil. Berapa kali saya melakukan pembelian pulsa, tiket pesawat, tiket kereta, rekening listrik, dst. Sangat jarang sekali.

Apalagi hampir sudah banyak fasilitas online, telah menyediakan transaksi pembayaran secara online. Tidak jauh-jauh, hampir semua bank yang menyediakan internet banking, telah dilengkapi fitur untuk berbagai pembayaran. Meskipun untuk bank, harus membayar biaya administrasi, tapi saya tidak terbebani dengan biaya perawatan aplikasi/bln.

Sementara untuk pembelian tiket pesawat, tiket kereta, saya bisa membelinya di traveloka, pegipegi, tanpa harus membayar biaya admisnistrasi. Disamping harganya lebih miring.

Berdasarkan beberapa cerita pengalaman yang diunggah di web-web para pebisnis Paytren, harga tiket pesawat di Paytren rata-rata lebih mahal dengan selisih sekitar 11rb hingga 12rb, jika dibandingkan penjual tiket pesawat online lainnya. hanya saja pengguna bisa mendapatkan cashback sebesar 17,27% dari margin. Untuk 1 tiket pesawat, pengguna akan mendapatkan cashback sekitar Rp 3000an;. semakin kecil nilai transaksinya, cashback semakin kecil.

Dari sini kita semakin yakin bahwa tidak ada produk riil yang dijual dalam Paytren. Yang lebih menonjol adalah menjual peluang mendapat pasar dalam bentuk fee dowline atau royalty cashback dari transaksi yang dilakukan downline. Ketika ancaman saturasi sistem semakin dekat, akan semakin merugikan downline.

Saatnya kaum muslimin kembali ke mengembangkan bisnis riil, yang bersih dari setiap unsur gharar (spekulatif). Lebih menitik beratkan pada produk dan jasa yang riil, bukan produk yang hanya sebatas kamuflase

Hukum Paytren (Bagian 04)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Islam mencegah setiap celah munculnya penipuan, penyesalan sepihak, ketidak nyamanan dalam setiap transaksi yang dilakukan. Karena itulah, islam melarang adanya gharar (ketidak-jelasan) dalam transaksi. Dalam transaksi di masa silam, bentuk gharar cukup jelas terlihat. Seperti ba’i mulamasah, munabadzah, atau ijon untuk buah yang belum layak dipanen [1] .

Lain halnya dengan transaksi kontemporer. Mengingat teori Opportunity is Market (peluang pasar adalah pasar), kebanyakan sisi gharar (ketidak-jelasan) terletak pada peluang pasar. Karena itulah, peluang pasar di zaman kita dijual. Mulai dari asuransi, MLM, bisnis afiliasi, dan semacamnya, semua yang dijual adalah peluang pasar. Terlebih transaksi modern lebih banyak didominasi di dunia maya, dan lebih menekankan transaksi tidak tunai. Sehingga keberadaan barang dan jasa menjadi tidak signifikan.

Apapun itu, baik gharar kuno, maupun gharar modern, semua memiliki titik kesamaan, sama-sama tidak jelas objek akadnya. Karena semua bergantung pada peluang. Sehingga ada kemungkinan untung atau sebaliknya, mengalami kerugian.

Saya sangat memahami, tulisan saya mengenai hukum Paytren belum tentu bisa diterima oleh para penggiat Paytren.

Setelah tulisan ini dipublis, ada banyak pembelaan yang mereka sampaikan dan dilaporkan ke saya.

Sengaja tulisan bagian keempat ini tertunda untuk mengumpulkan setiap pembelaan yang terkait. Karena bagian keempat ini disiapkan untuk menjawab pembelaan itu.

Berikut diantaranya,

[1] Bukankah hukum asal transaksi itu mubah?

Saya rasa kita semua sepakat akan hal ini, bahwa hukum asal transaksi jual beli adalah mubah. Ada tulisan mengenai kaidah ini, bisa anda simak di: Kaidah dalam Fikih Jual Beli

Hanya saja, Anda perlu beri catatan, hukum asal transaksi jual beli itu mubah, selama tidak ada unsur pelanggaran syariat .

Ketika di sana ada pelanggaran syariat, anda tidak bisa menggunakan kaidah ini sebagai dalil. Karena tidak nyambung. Kita dihalalkan untuk bertransaksi, tapi aktivitas dan transaksi kita juga dibatasi aturan.

[2] Apa salahnya MLM?

Yang salah bukan namanya atau barangnya.. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apa yang anda jual?

Mayoritas MLM tidak menekankan pada penjualan produk, namun lebih menekankan menjual peluang pasar. Seseorang dikatakan produktif, jika dia bisa mendapatkan banyak downline, dari pada menjual produknya.

Karena itulah, pada kebanyakan MLM, produk hanya sampingan. Banyak diantara mereka yang tidak butuh produk, namun termotivasi daftar hanya untuk bisa mendapatkan fee mencari downline.

[3] Antara MLM dan Konvensional

“Mengikuti sistem konvensional itu rugi. Satu-satunya sistem yang bisa membuat kita berbagi keuntungan adalah sistem MLM.”

Terlalu sentimen jika sistem konvensional disebut merugikan. Karena sistem ini yang dijalankan sejak masa silam. Bahkan sudah ada sejak zaman para sahabat. Jika ini merugikan, tentu mereka akan melarangnya.

Kita bisa pindah ke analogi yang sering digunakan untuk membela MLM…

[4] Analogi jualan buku…

“Ketika si A membeli buku dari toko X, karena isinya bagus, si A memberi tahu kepada si B agar membeli buku yang sama, dapat apakah si A? Bahkan andai setelah dari si B terjadi 1000 transaksi, tentu sudah sewajarnya, si A mendapat fee pemasaran.”

Ada analogi, dan ada kesesuaian analogi dengan kasus. Analogi ini tidak salah, karena setiap usaha yang manfaat, berhak mendapat penghargaan. Termasuk usaha memasarkan barang milik orang lain. Dalam kajian fiqh muamalah, fee pemasaran telah difatwakan boleh Ibnu Abbas dan beberapa ulama tabiin, seperti Muhammad bin Sirin dan yang lainnya. Usaha itu disebut

samsarah (makelaran). Pelakunya disebut simsar (makelar).

Dalam shahih Bukhari dinyatakan,

ﻭﻟﻢ ﻳﺮ ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻭﻋﻄﺎﺀ ﻭﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﺄﺟﺮ ﺍﻟﺴﻤﺴﺎﺭ ﺑﺄﺳﺎ

“Menurut Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim an-Nakhai, dan Hasan al-Bashri, upah makelar tidak masalah.”

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻊ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻓﻤﺎ ﺯﺍﺩ ﻋﻠﻰ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﻬﻮ ﻟﻚ

Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tidak masalah pemilik barang mengatakan, ‘Jualkan kain ini, jika laku lebih dari sekian, maka kelebihannya milik kamu.’ (Shahih Bukhari, 2/794).

Hanya saja, kita perlu membedakan objek dalam akad, antara produk riil dan produk yang bentuknya peluang pasar. Analogi toko buku, ini produk riil, jika buku itu benar-benar dibutuhkan konsumen. Ini sangat berbeda dengan Paytren. Dalam Paytren, dipisahkan antara harga produk dengan harga peluang pasar. Karena itu dalam Paytren dibedakan antara mitra pengguna dengan mitra pebisnis.

Ketika si A membeli buku, toko X memberikan 2 penawaran harga,

[1] Harga buku saja à Rp 50.000

[2] Harga buku, plus hak untuk memasarkan à Rp 65.000; di mana si A akan mendapatkan fee 10% dari setiap pembeli baru.

Dalam klausul no.2, toko X menjual peluang pasar. Dan bisa jadi, si A tidak ada keinginan untuk memiliki buku itu. Tapi dia rela beli karena ada peluang mendapatkan fee ketika ada pembeli baru. Saya kira, kita tidak perlu mengulang sisi gharar Paytren yang pernah kita bahas di: Hukum Paytren (Bagian-3)

Bagi orang yang memahami konsep gharar, dia akan melihat dengan sangat jelas sisi gharar transaksi di atas.

[5] Bukankah Paytren telah mendapatkan sertifikat dari MUI?

Bagian ini yang paling sulit untuk dijawab. Karena kami tidak tahu tingkat kebenaran dari berita ini. Kami berusaha mencari-cari bukti sertifikat itu, dan kami belum mendapatkannya. Padahal ini salah satu senjata pemasaran Paytren.

Yang kami jumpai adalah fatwa DSN-MUI no.75/2009 tentang PLBS (Penjualan Langsung Berjenjang Syariah).

Fatwa ini diterbitkan tahun 2009, dan Paytren belum lahir. Karena Paytren hadir tahun 2013.

Dan anda bisa bandingkan antara isi fatwa dengan realita Paytren. insyaaAllah kita akan membahas khusus kesesuaian fatwa dengan realita Paytren.

[6] Kami ingin sedekah, kami ingin membeli Indonesia

Seharusnya kita malu bersembunyi di balik motivasi indah untuk membela bisnis bermasalah… dulu waktu VSI dipasarkan, jargon mereka adalah bisa sambil sedekah, kita beli Indonesia.. bagaimana kelanjutannya?? VSI tidak ada kabar. Meskipun kita bisa memahami, VSI dengan Paytren core-bisnis nya hampir sama.

Semoga Allah membimbing kita untuk bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan memudahkan bagi kita untuk mengikutinya… amin.

Allahu a’lam.

[1] mengenai keterangan masing-masing, bisa dipelajari di Hukum Paytren Bag. 1

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

SUMBER  LINK ;

1) https://konsultasisyariah.com/29323-hukum-paytren-bagian-01.html

2) https://konsultasisyariah.com/29341-hukum-paytren-bagian-02.html

3) https://konsultasisyariah.com/29360-hukum-paytren-bagian-03.html

4)https://konsultasisyariah.com/29401-hukum-paytren-bagian-04.html

Advertisements