Kejahatan Luqman Baabduh di Dunia Dakwah Salafiyah

Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah kepada jalan Allah merupakan amalan yang mulia. Namun amalan yang mulia ini membutuhkan kemurnian, keikhlasan, dan kejujuran dalam melakukannya. Sehingga dakwah yang diserukan benar-benar kepada jalan Allah bukan kepada kepentingan pribadi maupun kelompok.

Allah berfirman di dalam Al Quran:

قُلْ هذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُواْ إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِي وَ سُبْحنَ اللهِ وِ مَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada (jalan) Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Seorang yang berdakwah kepada (jalan) Allah adalah seorang yang ikhlas dan ingin menyampaikan manusia kepada (jalan) Allah. Sedangkan seorang yang berdakwah kepada (jalan) selain-Nya, bisa jadi dia mengajak kepada (kepentingan) dirinya sendiri, atau dia mengajak kepada kebenaran supaya dirinya diagungkan dan dihormati di tengah-tengah manusia. Oleh karena itu, engkau akan mendapatinya murka bila manusia tidak melaksanakan apa yang diperintahkannya, dan tidak murka bila mereka melanggar sebuah larangan yang lebih besar dari dirinya sedangkan dia tidak mengajak untuk meninggalkannya.” (Syarh Kitabut Tauhid 1/126 cet. Darul ‘Ashimah).

Ketika kejujuran dalam berdakwah sudah lenyap, maka segala cara akan ditempuh, demi menggapai berbagai ambisi yang terselubung dalam diri orang yang menyerukannya. Pada akhirnya, dakwah itu tidak lagi benar-benar kepada jalan Allah, tetapi justru kepada kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu, meskipun dia mengklaim bahwa semua itu merupakan dakwah kepada jalan Allah.

Fenomena seperti ini yang harus kita waspadai bersama. Yaitu kemunculan orang-orang yang mengajak kepada kepentingan pribadi atau kelompok atas nama dakwah kepada jalan Allah. Dengan trik seperti ini, mereka berhasil menggiring manusia kepada berbagai ambisi yang mereka inginkan. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِين

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang jujur.” (AT Taubah:119)

Ustadz Luqman Baabduh dan kiprah dakwahnya

Di antara para da’i yang kami amati sangat ambisius terhadap kepentingan pribadi maupun kelompoknya adalah ustadz Luqman bin Muhammad Baabduh. Orang ini mempunyai segudang cara untuk melakukan hal itu, dengan menunggangi nama dakwah salafiyyah, yang merupakan dakwah kepada jalan Allah. Berikut ini, kami akan menjelaskan beberapa perkara yang menunjukkan hal di atas. Di antaranya:

Memakai fatwa ulama bila ada kepentingan, dan meninggalkannya bila tidak menguntungkan, khususnya bila menghadapi orang-orang yang berseberangan dengannya dan kelompoknya.

Perbuatan ini bukan hal asing pada diri ustadz Luqman Baabduh maupun orang-orang yang semacamnya demi mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diinginkan. Di dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa bukti yang menunjukkan kebenaran apa yang kami katakan tersebut. Sebagai berikut:

– Pada bulan Agustus pada tahun 2003 M, awal kami menginjakkan kaki di Indonesia, sepulang kami belajar dari negeri Yaman, di Ma’had Daarul Hadits yang didirikan guru kami Asy Syaikh Muqbil rahimahullah. Di awal kepulangan kami itu, kondisi dakwah salafiyyah di Indonesia sedang dilanda fitnah perpecahan dan perselisihan yang disulut oleh tahdzir ustadz Luqman Baabduh terhadap RMS (Riau, Makassar, Solo). Maksudnya, dia mentahdzir dari beberapa ustadz yang berasal dari wilayah-wilayah itu, seperti ustadz Dzulqarnain dari Makasssar, ustadz Dzul Akmal dari Riau, ustadz Jauhari dan ustadz Muhammad Nai’m dari solo.

Ustadz Luqman menggunakan istilah RMS (mirip dengan istilah yang digunakan pada gerakan pembrontakan separatis Maluku), karena pada saat itu dia dan kelompoknya baru terlepas dari fitnah Laskar Jihad, yang dibubarkan oleh fatwa Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah. Sehingga sisa-sisa di masa dia sebagai wakil panglima laskar jihad masih terngiang-ngiang di benaknya.

Waktu itu, saya dan sebagian ustadz sempat mendatangi ustadz Luqman ke pondok pesantrennya di daerah Jember. Kami datang untuk memberikan masukan bahwa yang dilakukannya itu merupakan sebuah ketergesa-gesaan yang hanya akan membuat api fitnah semakin berkobar dan perpecahan akan merebak dimana-mana. Kami juga mengingatkan bahwa yang ditahdzirnya itu adalah ustadz-ustadz yang masih dalam lingkaran ahlus sunnah. Hendaknya dia lebih sabar dan mengupayakan islah dengan mereka. Namun ustadz Luqman Baabduh tidak menerima masukan kami.

Di antara alasannya melakukan itu, dia berhak membela diri dari tuduhan yang selalu diarahkan kepadanya, dengan menggunakan ucapan syaikh Rabi’ yang sempat pernah mengatakan “Aku mengkhawatirkan bahwa Luqman ini adalah seorang Ikhwani yang pura-pura menampakkan diri dengan kesalafiyahan, karena Ikhwanul Muslimin menggunakan cara Taqiyah (bermuka dua) dan pura-pura menampakkan diri dengan kesalafiyahan”. Sehingga terjadilah dialog dengan kami sampai sekitar jam 2 pagi di rumah salah seorang ikhwan.

Perlu diketahui bahwa ustadz Luqman dan kelompoknya bila sudah menjatuhkan tahdzir pada seseorang, mereka akan sangat memusuhinya dan siapa saja yang bersamanya, meskipun itu adalah ikhwan biasa yang pada umumnya hanya ikut-ikutan. Pada kedatangan kami saat itu, ustadz Luqman sempat menegur saya mengapa saya membawa seorang ikhwan yang bernama Abu Laila, karena semata-mata dia termasuk orang yayasan Al Madinah yang berada di bawah binaan ustadz Jauhari dan ustadz-ustadz lain yang dianggap berseberangan dengan ustadz Luqman.

Selanjutnya, hari demi hari, perpecahan dan perselisihan semakin parah di tengah-tengah salafiyyin. Sebagian ustadz sempat menghubungi Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah guna meminta nasehat atas fitnah yang sedang berkecamuk itu. Dalam beberapa kesempatan, beliau –semoga Allah selalu memberi kekuatan dan kesehatan kepada beliau- tak henti-hentinya menasehatkan untuk menjaga persaudaraan di antara para da’i ahlus sunnah dan menyelesaikan masalah di antara mereka dengan penuh kasih sayang. Lebih kurang demikian nasehat beliau yang masih saya ingat sampai saat ini.

Beberapa waktu kemudian, sekitar tahun 2004, saya dan ustadz Ali Basuki berupaya memprakarsai upaya islah (damai) antara ustadz Luqman dan ustadz-ustadz yang bersamanya dengan ustadz Dzul Akmal dan ustadz Muhammad Wildan. Semua itu kami lakukan dalam rangka mengamalkan nasehat ulama serta menjaga keutuhan dakwah dan persatuan.

Kemudian walaupun kedua belah pihak sudah berada di Jakarta, tetapi akhirnya islah itu gagal terlaksana karena kedua belah pihak bersikeras dengan sikapnya masing-masing. Bahkan, Luqman Baabduh dan ustadz-ustadz yang bersamanya sangat enggan untuk datang ke masjid Fatahilah Depok bila islah itu digelar di sana. Alasannya karena masjid Fatahilah itu adalah masjid hizbi. Meskipun sampai saat ini, klaim itu mentah dengan sendirinya, sebab masjid Fatahilah sering digunakan sebagai tempat kajian ahlus sunnah, dan bahkan didatangi oleh sekian syaikh dan ustadz ahlus sunnah, baik untuk kepentingan mengisi pengajian ataupun sekedar ziarah. Bahkan dalam beberapa waktu belakangan ini, masjid Fatahilah menjadi tempat kajian ustadz Muhammad Umar As Sewed yang dianggap sebagai “da’i kondang” ahlus sunnah.

Kembali kepada masalah islah, sesudah upaya islah yang saya dan ustadz Ali Basuki prakarsai itu gagal, ustadz Luqman Baabduh dan ustadz-ustadz yang bersamanya memaksa saya untuk berbicara dan mengeluarkan tahdzir terhadap ustadz Dzul Akmal dan Muhammad Wildan. Dimulai dengan ustadz Usamah Mahri yang menelpon dan mendesak saya untuk berbicara tentang ustadz Dzul Akmal ke hadapan publik. Kemudian berikutnya ustadz Luqman sendiri yang menelpon dan juga mendesak saya untuk melakukan itu. Bahkan dia mengancam dengan kalimat “Kalau kamu tidak mau bicara, jangan salahkan kami, bila ada ustadz yang berbicara (tahdzir) tentang kamu”.

Sampai saat itu, saya berusaha tidak mengikuti kemauan mereka, dengan alasan bahwa syaikh Rabi’ masih menasehatkan kepada para ustadz ahlus sunnah sebagaimana di atas, tetapi mereka tidak menghiraukan hal itu. Inilah gaya intimidasi yang sudah biasa mereka lakoni, untuk memaksa siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka, supaya bisa mengikuti manhaj mereka dalam mentahdzir secara serampangan.
Kemudian masing-masing pihak kembali ke daerahnya. Kami pun kembali ke Yogyakarta untuk membina pondok pesantren Al Anshar yang sedang berlangsung saat itu.

Selanjutnya api fitnah terus berkecamuk. Mulailah ustadz-ustadz yang sekelompok dengan ustadz Luqman Baabduh berbicara atau menulis di media tentang ustadz Dzul Akmal. Di antara mereka yang berbicara atau menulis adalah ustadz Qamar Suaidi, ustadz Muhammad Umar As Sewed, dan yang lainnya. Di tengah-tengah kondisi yang demikian, sempat diadakan daurah nasional di daerah Ngawi, disertai dengan pertemuan para ustadz di rumah pak Muhyi rahimahullah, salah seorang ikhwan Ngawi.

Tanpa kami sadari, ternyata pertemuan itu dimanfaatkan oleh ustadz Luqman dan kelompoknya untuk “menyidang” kami yang sampai saat itu belum kunjung berbicara atau mentahdzir ustadz Dzul Akmal.
Dalam menghadapi fitnah seperti ini, sekali lagi kami berupaya mengikuti nasehat Syaikh Rabi’ yang sampai saat itu masih selalu menasehatkan untuk menjaga persaudaraan, dan membuka ruang saling memahami antara satu dengan yang lain dipenuh kasih sayang.

Tapi apa boleh dikata, sepulang acara itu kondisi semakin runyam dan panas. Bahkan api fitnah menjalar masuk ke pondok pesantren yang sedang kami bina. Para ahli fitnah dari kalangan orang-orang yang jahil terus menyebarkan fitnahnya di tengah-tengah pondok pesantren. Sampai mereka berhasil menggelar majlis rapat, yang juga dihadiri ustadz Luqman dan beberapa ustadz yang sejalan dengannya, di kantor majalah Syari’ah, dalam rangka mempermasalahkan kami dan ustadz Ali Basuki yang tidak pernah menyinggung masalah fitnah yang sedang terjadi di antara ustadz-ustadz, dan hanya menyibukkan para santri dan ikhwan dengan ilmu.

Di majlis yang sama, salah satu orang jahil itu mengatakan bahwa dia sangat mempercayai kami dan ustadz Ali sebelum mengetahui kondisi fitnah, namun kemudian hatinya hancur berkeping-keping, karena ternyata kami berdua tidak pernah memberitahukan kepada mereka perihal fitnah yang sedang terjadi, dan hanya menyibukkan mereka dengan ilmu. Hal ini didengar dan disaksikan oleh seisi majlis, tetapi tak seorang pun dari kalangan para ustadz itu yang bergeming, baik ustadz Luqman maupun yang selainnya. Seolah-olah kami telah melakukan kesesatan yang nyata dengan tidak berbicara atau mentahdzir ustadz Dzul Akmal dan hanya menyibukkan para santri dan ikhwan dengan ilmu.

Maka akhirnya datang juga saat-saat yang mereka ancamkan kepada kami. Ustadz Luqman mentahdzir kami di tengah-tengah kami sedang semangat mengajak para santri dan ikhwan untuk menyibukkan diri dengan ilmu dalam menghadapi api fitnah. Para santri dan ikhwan dilarang untuk menghadiri majlis kami yang membahas tentang adab menuntut ilmu dengan vonis sebagai majlis pemecah belah. Dengan itu, kami pun dimusuhi dan diboikot oleh satu pondok pesantren, kecuali hanya segelintir orang yang masih mau percaya kepada kami. Yang lebih menyakitkan kami, para santri kami diisolir dari kami, sehingga kami merasakan betapa hebatnya pemboikotan mereka, tatkala kami tidak mau mengikuti kemauan mereka.

Dengan kondisi yang sedemikian mencekam itu, tentunya segala kebaikan yang selama ini kami jalani dalam proses belajar mengajar pun terhenti, yang ada hanya amukan api fitnah. Bahkan pondok pesantren menjadi bubar sebagai korban api fitnah mereka. Pada waktu itu, saya hanya berfikir bagaimana cara memadamkan api fitnah ini sehingga tidak terus bertambah parah dan memakan korban lebih banyak. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk mengutarakan keinginan baik kami kepada ustadz Abdurrahman Lombok di Muntilan dan ustadz Abdul Jabar di Yogyakarta. Mereka meminta kami untuk mengalah dan berbicara tentang Dzul Akmal.

Kami pun menyepakatinya dengan hati yang sangat berat. Karena Kami sebenarnya mengetahui dan menyadari bahwa hal ini menyelisihi nasehat Syaikh Rabi’. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan kami.

Pasca kami berbicara tentang ustadz Dzul Akmal, kondisi pun mulai tenang di pondok pesantren kami, yang hanya tinggal menyisakan puing-puing kepedihan dari kobaran api fitnah yang mulai redup. Di dalam hati, kami selalu bertanya-tanya inikah manhaj salaf yang diajarkan oleh para ulama? Di manakah letaknya sikap yang selama ini selalu disuarakan di majelis-majelis ilmu bahwa ahlus sunnah mengikuti nasehat para ulama?

Memang kejujuran itu mahal. Terlebih lagi tatkala kejujuran itu bertentangan dengan kepentingan dan ambisi yang terpendam di dalam dada. Kedustaan tidak mesti berupa ucapan. Terkadang kedustaan dibuktikan oleh tindakan nyata. Bila kejujuran telah tiada dan kedustaan menjadi nyata maka kejahatan pun akan merajalela.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‏إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّوَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكتب عند اللهَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan itu membawa kepada surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa jujur, hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan itu membawa kepada api neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa dusta, hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abdulah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Pada tahun 2005 M, dua orang syaikh dari negeri Yaman datang ke Indonesia, yaitu Syaikh Abdullah Al Mar’i dan Syaikh Salim Bamuhriz hafizhahumallah. Keduanya berupaya mengislahkan pihak-pihak yang bertikai. Pada akhirnya islah pun terwujud, dengan kesimpulan bahwa masing-masing pihak adalah ahlus sunnah, serta masing-masing pihak mempunyai kesalahan dan rujuk darinya. Ternyata penyimpangan manhaj yang sebelumnya mereka tuduhkan sebagai sesuatu yang sangat membahayaka tidak sebagaimana hakekatnya. Bahkan pada pihak mereka pun terjadi kesalahan-kesalahan yang mereka mau tidak mau harus rujuk darinya.

Semua ini mengingatkan kami dan juga para pembaca sekalian mengenai penerapan tahdzir yang selama ini disuarakan oleh Ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya itu. Sudah benarkah penerapan tahdzir mereka? Apa sebenarnya yang melatarbelakangi tahdzir mereka? Sudahkah mereka jujur dalam mengikuti nasehat para ulama?

Pada kenyataannya, pasca islah tahun 2005 M, masih banyak praktek-praktek tahdzir semacam itu dilakukan ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya, tetapi dengan cara yang lebih samar dan licik.
Adapun tahdzir ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya, yang belakangan ini terjadi terhadap ustadz Dzulqarnain dengan menggunakan ucapan Syaikh Rabi’ hanya sebagai legitimasi, karena tahdzir yang semacam itu sudah lama mereka hembuskan terhadap ustadz Dzulqarnain dan ustadz-ustadz salafi yang tidak sejalan dengannya. Insyaallah akan kami jelaskan secara lebih rinci dalam tulisan berikutnya.

Di sini rasanya perlu kami tegaskan, bahwa kami bukan anti kepada manhaj tahdzir, karena kami mengerti manhaj tahdzir merupakan syariat yang mulia dan bersumber dari Al Quran, Al Hadits, serta dilakukan oleh ulama-ulama besar ahli hadits sampai masa ini. Tentunya sangat dusta bila ada yang mengatakan bahwa kami anti tahdzir, atau digambarkan bahwa kami punya manhaj yang lemah dan sikap yang lembek terhadap ahli bid’ah.

Sungguh benar yang dikatakan oleh para ulama bahwa masalah Al Jarh wat Ta’dil (mencacat dan merekomendasi) hanya boleh dimasuki oleh para ulama. Bahkan di kalangan para ulama, tidak seluruh ulama bisa memasuki pintu Al Jarh wat Ta’dil, kecuali hanya segelintir dari mereka yang mempunyai ketakwaan tingkat tinggi, keilmuan mapan, dan keahlian di bidang ini. Sebab pintu ini adalah pintu yang rawan dimasuki oleh hawa nafsu bahkan untuk orang yang sekaliber ulama. Oleh karena itu tidak sembarang orang boleh berbicara tentang Al Jarh wat Ta’dil. Dan masalah tahdzir berdiri di atas Al Jarh wat Ta’dil.

Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya, berikut ini:
“Sungguh telah dibuka di masa kita sebuah pintu kejelekan, apakah pintu kejelekan tersebut? Pintu kejelelekan itu adalah masalah Al Jarh wat Ta’dil bagi para penuntut ilmu. Para penuntut ilmu butuh untuk menutup pintu ini, yaitu pintu Al Jarh wat Ta’dil. Tidak ada yang bisa menguasainya dengan baik dan mampu melakukannya kecuali (ulama) yang mumpuni dalam keilmuan, terlepas dari hawa nafsu, berhati-hati dalam (menerima) berita dan menjatuhkan hukum, jauh dari hawa nafsu, balas dendam, dan lain sebagainya.

Engkau bisa perhatikan seorang penuntut ilmu bila bertikai dengan saudaranya, tanpa disadari dia berdusta atasnya, dan melampui batas kepadanya. Ini (yang dilakukannya) bersama penuntut ilmu. Bagaimana dia tidak melampui batas tatkala dia memandang (dirinya sudah pantas) mencacat atau merekomendasi. Ini adalah fitnah. Aku nasehatkan para penuntut ilmu untuk bertaubat kepada Allah dari masuk ke dalam perkara-perkara ini, istiqamah di atas agama, memperbaiki lisan, dan menjaga lisan dari perkara yang tidak boleh diucapkan tentang seseorang.

Bertakwalah engkau kepada Allah dan hendaklah engkau merasa diawasi oleh Allah. Bukan alasan bagi seseorang untuk melepaskan lisannya dengan sekehendaknya, lalu dia belajar (untuk mengatakan) bahwa aku mendengar demikian. Ini tidak cukup, ini tidak cukup.

Telah datang dari hadits Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من قال في مؤمن بما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال
“Barangsiapa yang mengatakan sesuatu tentang seorang mukmin yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menempatkannya di tempat kotoran penduduk neraka.” (HR. Ahmad dan yang selainnya)

Kita mengetahui dan berjalan di atas hal ini, bahwa Al Jarh wat Ta’dil termasuk perkara yang dikenal (hanya) dilakukan para ulama hadits, mereka berjalan di atas hal itu tetapi dengan ketentuan-ketentuan syari’at. Oleh karena itu, mayoritas para ulama tidak masuk ke dalam pintu ini. Kenapa? Karena mereka lebih mengedepankan keselamatan, mereka lebih mengedepankan keselamatan, padahal mereka adalah ulama. Silahkan baca tentang para salaf, dan lihat siapakah yang menyibukkan diri dengan perkara ini? Mereka adalah para ulama besar, dan mereka hanya sejumlah kecil dari para ulama.

Maka ahlus sunnah –segala puji bagi Allah- berjuang untuk memperbaiki lisan mereka, berbicara dengan kebaikan, berdakwah kepada (jalan) Allah, dan memberi nasehat kepada manusia. Akan tetapi jangan sampai syaithan mempermainkan kita dari pintu-pintu (Al Jarh wat Ta’dil) yang kita tidak menguasainya dengan baik. Kita tidaklah dituntut (untuk) melakukan pintu-pintu (Al Jarh wat Ta’dil) itu. Karena hal itu di luar kemampuan dan kesanggupan kita secara ilmu dan akal.

Oleh karena itu, sebagaimana yang kalian dengar, aku mengatakan hal ini sebagai seorang yang memberi nasehat. Dan sebagaimana yang kalian saksikan, bahwa orang-orang yang berjalan di arena ini tanpa ketentuan-ketentuan dan keterkaitan-keterkaitan, telah membahayakan diri mereka sendiri. Karena itu aku memberi nasehat supaya engkau tidak menjadi pelajaran buat yang selainmu. Hendaknya engkau mengambil pelajaran dari yang selainmu dan jangan engkau yang menjadi pelajaran buat yang selainmu…(link audio syaikh Muhammad Al Imam:http://www.youtube.com/watch?v=NBwhCrgKR6Q)

Semua keonaran, keributan, kekacauan, dan fitnah yang terjadi di negeri kita ini, khususnya di kalangan ahlus sunnah, diakibatkan ustadz-ustadz ambisius semacam ustadz Luqman Baabduh dan yang setipenya, atau ustadz-ustadz latah semacam Muhamamad Umar As Sewed dan yang setipenya. Ustadz Muhammad As Sewed, kami katakan latah, karena memang dia tidak kuasa menahan lisannya dalam urusan-urusan fitnah, dan acapkali tanpa pertimbangan maslahat dan mafsadat.

Mereka menduduki kursi Al Jarh wat Ta’dil yang mereka tidak berhak berada di atasnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا وسد الامر إلى غير أهله فانتظر الساعة

“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini merupakan pembodohan dan penipuan terhadap umat. Yaitu, ketika seorang da’i merampas sesuatu yang merupakan hak ulama bahkan hak orang-orang khusus di kalangan para ulama.
Hal ini tidak bermakna bahwa kita tidak menjarh (mencacat) atau mentahdzir dari bid’ah dan ahli bid’ah. Namun semua itu dilakukan dengan bimbingan para ulama dalam melakukannya, dan tanpa membonceng di baliknya hawa nafsu maupun ambisi tertentu, terlebih bila masalahnya terkait dengan seseorang yang asalnya adalah ahlus sunnah.

Tulisan kami ini bukan bermaksud untuk merampas hak orang-orang khusus dari kalangan para ulama. Akan tetapi kami hanya ingin mengungkap kenyataan pahit yang sedang melanda dakwah salafiyyah di Indonesia dan menepis sangkaan-sangkaan buruk yang dialamatkan kepada kami. Dan sebenarnya kami pun menulis semua ini dengan hati yang sangat berat dan pilu. Semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kami dan seluruh kaum muslimin.
Wallahu a’lam bish shawab.
Bersambung…

Re-Shared Link  :

:http://luqmanbaabduh.blogspot.co.id/2013/12/kejahatan-luqman-baabduh-di-dunia.html?m=1

Advertisements