19 Faidah Seputar Ilmu

  1. Keutamaan Menimba Ilmu

Menimba ilmu merupakan amalan yang sangat utama. Sampai-sampai dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullah“Menimba ilmu lebih utama daripada mengerjakan sholat sunnah.” Sufyan ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan, “Tidaklah ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu bagi orang yang lurus niatnya.” (lihat Shahih Jami’ Bayani al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 31 oleh Syaikh Abul Asybal az-Zuhairi hafizhahullah)

  1. Memohon Tambahan Ilmu

Allah berfirman (yang artinya), “Dan katakanlah; Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Thaha : 114). Dan telah menjadi kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa setelah sholat Subuh memohon ilmu yang bermanfaat, amal salih, dan rizki yang baik. Demikian pula para ulama besar Islam mereka menjadi para imam dan orang-orang yang dalam ilmunya karena mereka memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat (lihat Fiqh al-Jama’ah, hal. 10 oleh Syaikh Dr. Hamad bin Ibrahim hafizhahullah)

  1. Jalan Menuju Surga

Surga tidak akan bisa dimasuki dan diraih kecuali dengan bekal iman dan ketaatan kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Masuklah kalian ke dalam surga dengan apa-apa yang telah kalian amalkan.” (an-Nahl : 32). Dan tidak ada jalan untuk mengenali iman dan amal salih kecuali dengan ilmu yang bermanfaat (lihat keterangan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam kitab beliau Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 65)

  1. Tekad dalam Belajar

Disebutkan dalam Manaqib al-Imam Ahmad, Abdullah bin Muhammad al-Baghawi pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Saya akan terus menimba ilmu sampai saya masuk kubur.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, 4/129)

  1. Kelezatan Ilmu

Disebutkan dalam kitab Tadzkiratul Huffazh, bahwa an-Nashr bin Syumail rahimahullah pernah mengatakan, “Tidak akan bisa seorang merasakan lezatnya ilmu sampai dia merasakan lapar dan melupakan rasa laparnya itu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, 4/136)

  1. Sabar Menimba Ilmu

Di dalam Thabaqat al-Hanabilah dikisahkan bahwa suatu ketika Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengimami sholat bersama Abdur Razzaq maka Abdur Razzaq pun bertanya kepadanya tentang penyebab beliau lupa di dalam sholatnya tadi. Imam Ahmad menjawab, “Saya belum mencicipi makanan semenjak tiga hari lamanya.” Kisah ini terjadi pada saat perjalanan Imam Ahmad ke negeri Yaman dalam rangka menimba ilmu (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, 4/138)

  1. Berkorban untuk Ilmu

Khalaf bin Hisyam al-Azdi rahimahullah mengatakan, “Pernah saya mengalami kesulitan memahami sebuah bab dalam ilmu nahwu sehingga saya tidak bisa memahaminya. Maka saya pun menghabiskan uang sebanyak tiga puluh ribu dirham sampai pada akhirnya saya bisa memahaminya dan matang dalam mengilmui hal itu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, 4/144)

  1. Kehati-hatian Para Ulama

Muhammad bin Sirin berkata : Adalah Anas bin Malik apabila telah selesai menuturkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau berkata, “Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Shahih Sunan Ibni Majah, 1/26)

  1. Sifat Rendah Hati

Qatadah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang diberikan harta, keelokan rupa, pakaian, atau ilmu kemudian dia tidak tawadhu’ di dalamnya maka itu akan berubah menjadi bencana baginya kelak pada hari kiamat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, 5/129)

  1. Kunci Persatuan

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah…” (lihat al-Ishbah, hal. 82). Beliau menekankan, “Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu…” (lihat al-Ishbah, hal. 82). 

  1. Bahaya Tidak Meneliti Berita

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang menjadi imam/teladan apabila dia selalu menuturkan setiap pembicaraan/hadits yang dia dengar. Dan tidak pula menjadi imam/panutan orang yang senantiasa menyampaikan hadits -tanpa meneliti- dari siapa pun datangnya.” (lihat adh-Dhu’afa’ al-Kabir Jilid 1 hal. 9)

  1. Hakikat Ilmu

ar-Rabi’ bin Anas rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah ta’ala maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/berilmu.” Mujahid rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)

  1. Besarnya Kebutuhan Ilmu

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan -untuk dikonsumsi- dalam sehari sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu maka ia dibutuhkan -untuk dipahami, pent- sebanyak hembusan nafas.” (lihat Miftah Daris Sa’adah, 1/248-249)

  1. Orang Yang Rabbani

Allah berfirman (yang artinya), “Jadilah kalian orang-orang yang rabbani.” (Ali ‘Imran : 79). Imam Bukhari rahimahullah menukil di dalam Sahihnya penafsiran ulama mengenai istilah ‘rabbani’ bahwa orang yang rabbani itu adalah yang mengajarkan kepada manusia ilmu-ilmu yang kecil/dasar sebelum ilmu-ilmu yang besar/rumit. Maksudnya adalah dia mengajarkan kepada manusia perkara-perkara yang jelas sebelum perkara yang samar. Dan tidaklah seorang menjadi rabbani kecuali apabila dia adalah berilmu, mengamalkan ilmunya dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain (lihat Minhatul Malik al-Jalil, 1/231-232)

  1. Bahaya Beramal Tanpa Ilmu

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

  1. Ilmu Pilar Keimanan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “.. Kedudukan ilmu di dalam iman adalah laksana ruh bagi seluruh badan, tidak akan tegak pohon keimanan kecuali di atas pilar ilmu dan ma’rifat/pemahaman…” (lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 89)

  1. Tanda Mengikuti Sunnah

Abu Ja’far al-Baqir rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengetahui keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu’anhuma maka sesungguhnya dia telah bodoh terhadap Sunnah/ajaran Nabi.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 466)

  1. Dua Macam Ilmu

al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)

  1. Niat Menimba Ilmu

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: Dahulu ibuku berpesan kepadaku, “Wahai anakku, janganlah kamu menuntut ilmu kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 579)

Advertisements