๐Ÿšง RENUNGAN DAN PERINGATAN TERKAIT BIDโ€™AH KHAWARIJ DAN HIZBIYYAH HARAKIYYAH DALAM BARISAN AHLUS SUNNAH

โ›” Berlebih-lebihan, ekstrim, ghuluw dan terlalu gampang dalam memvonis seorang Ahlus Sunnah sebagai ahlul bidโ€™ah atau mentahdzir seorang ulama dan daโ€™i Ahlus Sunnah adalah musibah besar di masa ini, yang diingkari oleh seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah tanpa terkecuali.

Tetapi, jangan menutup mata juga, tidak sedikit generasi baru bahkan lama yang telah sedikit banyak mengenal Sunnah, namun bermudah-mudahan dan bergampangan dalam permasalahan manhaj.
Tidak jarang, mereka mudah tertipu dengan gelar-gelar akademis dari Timur Tengah lalu menganggap semua orang yang bergelar tersebut adalah Ahlus Sunnah, padahal pemikiran-pemikiran Khawarij begitu kuat bercokol dalam benak mereka dan terlihat jelas dalam ucapan dan gerakan mereka.
Bahkan bisa jadi seorang hizbi berpemahaman Khawarij, yang jahil lagi tak beradab, mereka anggap sebagai โ€˜Ustadzโ€™ Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah, hanya karena ia membela โ€˜Wahabiโ€™ dan mentahdzir โ€˜Syiโ€™ahโ€™. Kurang lebih sama dengan orang jahil yang sibuk meruqyah dan lalai dari menuntut ilmu, orang jahil yang sibuk mentahdzir bahkan yang sibuk mengkafirkan, tapi dijadikan rujukan.
Tidak sedikit pula, yang sudah ngaji bersama Ahlus Sunnah, tapi dengan mudahnya mengumbar emosi dan meluapkan kemarahan terhadap Pemerintah di media-media sosial.
Atau dengan entengnya menyebarkan berita-berita media yang mengandung cercaan terhadap Pemerintah. Bahkan tidak sedikit media-media yang dianggap bermanhaj Ahlus Sunnah dan memusuhi Syiโ€™ah, Liberal dan kelompok-kelompok sesat lainnya, tetapi terang-terangan dalam โ€˜menasihatiโ€™ Pemerintah, dan media-media ini jarang atau tidak pernah sama sekali menyingkap fikrah Khawarij yang ada pada kelompok Ikhwanul Muslimin dan yang semisalnya.
Di sini kami tidak hendak menujukan peringatan ini kepada person-person tertentu atau komunitas-komunitas dakwah tertentu, namun nasihat ini umum, tidak ada maksud menjatuhkan pihak-pihak tertentu, sebab fenomenanya memang umum, hampir merata di setiap komunitas-komunitas kajian yang ber-intisab kepada Ahlus Sunnah, karena banyak faktor.
Ada faktor-faktor yang bisa dimaklumi seperti karena baru ngaji misalnya, ada pula yang sulit dipercaya, mengapa fulan yang kita kenal sebagai Ahlus Sunnah sudah sejak lama tapi tidak paham bahaya hizbiyah dan Khawarij, bahkan cenderung membela? Dengan siapa sebetulnya fulan berteman? Dari siapa saja ia mengambil ilmunya? Mengapa bisa kena syubhat?
Banyak faktor, bisa jadi salah satunya, saya sendiri sebagai Ahlus Sunnah insya Allah, atau sebagai Pendidik, kurang atau bahkan tidak sama sekali mengingatkan bahaya-bahaya hizbiyah harakiyyah dan fikrah Khawarij, serta tidak mempraktekan ilmu tentang itu di lapangan.
Oleh karena itu, melalui risalah ringkas ini kami ingin mengingatkan beberapa poin penting yang semoga dapat membantu kita berpegang teguh dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah:
โžก Pertama: Ketahuilah saudaraku, benar bahwa tidak semua orang yang bersalah bisa kita keluarkan dari Ahlus Sunnah, tidak semua orang yang bersalah bisa kita vonis ahlul bidโ€™ah kemudian kita tahdzir. Tetapi itu bisa saja terjadi, bukan tidak mungkin. Maka ketahuilah, kesalahan yang mengeluarkan seseorang dari Ahlus Sunnah itu diantaranya adalah apabila kesalahan itu menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah dalam kaidah umum atau prinsip dasar agama. Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata,
ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู: ยซูƒูู„ู‘ูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ยป ูˆูŽุญูŽุชู‘ูŽู…ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ. ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุนูŽุฏู‘ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููุฑูŽู‚ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุฎูŽุงู„ูููŽ ูููŠ ุฃูŽู…ู’ุฑู ูƒูู„ู‘ููŠู‘ู ูˆูŽู‚ูŽุงุนูุฏูŽุฉู ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉู

โ€œBahwa Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda, โ€œSemuanya di neraka kecuali satu.โ€ Beliau memastikan hal tersebut. Dan telah berlalu bahwa tidaklah seseorang digolongkan kepada kelompok-kelompok sesat (ahlul bidโ€™ah) itu kecuali orang yang menyelisihi dalam perkara yang menyeluruh dan kaidah umum (prinsip-prinsip dasar agama).โ€ [Al-Iโ€™tishom, 2/764]
Diantara prinsip dasar agama yang sangat penting berdasarkan dalil-dalil Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah adalah menaati Pemerintah dan tidak memberontak, oleh karena itu Khawarij dihukumi sebagai ahlul bidโ€™ah karena diantaranya menyelisihi Ahlus Sunnah dalam prinsip ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
ูˆโ€ุงู„ู’ุจูุฏู’ุนูŽุฉูโ€ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูุนูŽุฏู‘ู ุจูู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงุกู ู…ูŽุง ุงุดู’ุชูŽู‡ูŽุฑูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุจูุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ู…ูุฎูŽุงู„ูŽููŽุชูู‡ูŽุง ู„ูู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉูุ› ูƒูŽุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูŽูˆูŽุงุฑูุฌู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽูˆูŽุงููุถู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุฏูŽุฑููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ุฌูุฆูŽุฉู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ูˆูŽูŠููˆุณูููŽ ุจู’ู†ูŽ ุฃูŽุณู’ุจูŽุงุทู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ุฃูุตููˆู„ู ุงุซู’ู†ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุณูŽุจู’ุนููŠู†ูŽ ููุฑู’ู‚ูŽุฉู‹ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŒ: ุงู„ู’ุฎูŽูˆูŽุงุฑูุฌู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽูˆูŽุงููุถู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุฏูŽุฑููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ุฌูุฆูŽุฉู

โ€œBidโ€™ah yang menggolongkan seseorang kepada ahlul ahwa (ahlul bidโ€™ah) adalah bidโ€™ah yang telah masyhur di kalangan ulama Sunnah akan penyelisihannya terhadap Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah, seperti bidโ€™ah Khawarij, Rafidhah (Syiโ€™ah), Qodariyyah dan Murjiah, karena sungguh Abdullah bin Al-Mubarok, Yusuf bin Asbath dan selain keduanya berkata: Akar 72 golongan ada empat; Khawarij, Rafidhah (Syiโ€™ah), Qodariyyah dan Murjiah.โ€ [Majmuโ€™ Al-Fatawa, 35/414]
Bahkan bersabar terhadap kezaliman penguasa juga termasuk prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆุฑู ุจูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูู„ู’ู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽูˆู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุตููˆู„ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ู‡ููˆุฑูŽุฉู ุนูŽู†ู’ู‡ู

โ€œTermasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan Allah taโ€™ala adalah bersabar atas kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa, sebagaimana itu juga termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah dan telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam di dalam banyak hadits yang sudah masyhur.โ€ [Majmuโ€™ Al-Fatawa, 28/179]
Maka jelaslah bidโ€™ah Khawarij itu tidak ringan, sebagaimana bidโ€™ah Syiโ€™ah mengeluarkan dari Ahlus Sunnah, demikian pula bidโ€™ah Khawarij dapat mengeluarkan dari Ahlus Sunnah, jangan pandang remeh wahai saudaraku yang sudah mengenal Sunnah.
Dan diantara pangkal masalahnya adalah orang-orang yang berpemahaman Ikhwanul Muslimin yang memiliki bidโ€™ah khawarij dan hizbiyyah harakiyyah yang telah mengenal Sunnah, tapi tidak rela meninggalkan pemahaman Khawarij, lalu mencoba untuk mencampuradukkan antara manhaj yang haq dan yang batil, sama saja mereka sadar atau tidak. Dan tidak sedikit pula yang sengaja disusupkan ke dalam barisan Ahlus Sunnah.
Atau orang-orang yang sudah mengenal Sunnah tapi masih suka โ€˜bergaul bebasโ€™ dalam belajar, tidak peduli kepada Ahlus Sunnah atau kepada Ikhwanul Muslimin yang berpaham Khawarij. Pada akhirnya mereka termakan syubhat tanpa sadar.
โžก Kedua: Kenalilah ciri-ciri Khawarij, agar engkau menjauhi dan waspada dari orang-orang yang memiliki ciri-ciri tersebut. Asy-Syaikh Al-โ€˜Allamah Shalih Al-Fauzan menerangkan tiga ciri Khawarij yang paling mendasar:
1. Mengkafirkan kaum muslimin.
2. Memberontak terhadap pemerintah muslim.
3. Menghalalkan darah kaum muslimin.
[Lihat Al-Fatawa Asy-Syarโ€™iyyah fil Qodhooya Al-โ€˜Ashriyyah, hal. 86]
โžก Ketiga: Apakah yang disebut Khawarij itu harus melakukan tiga penyimpangan tersebut atau cukup satu saja sudah bisa dihukumi Khawarij? Asy-Syaikh Al-โ€˜Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
ูˆู…ู† ุงุชุตู ุจุฎุตู„ุฉ ู…ู† ุฎุตุงู„ู‡ู… ูู‡ูˆ ู…ู†ู‡ู… :
ุงู„ุฐูŠ ูŠุฎุฑุฌ ุนู„ู‰ ูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู…ุฑ ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ.

ุงู„ุฐูŠ ูŠูƒูุฑ ุจุงู„ูƒุจูŠุฑุฉ ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ.

ุงู„ุฐูŠ ูŠุณุชุญู„ ุฏู…ุงุก ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ.

ุงู„ุฐูŠ ูŠุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุฃุดุฏ ุฃู†ูˆุงุน ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ.

Barangsiapa mengadopsi salah satu sifat Khawarij tersebut maka ia bagian dari mereka:
1. Siapa yang memberontak kepada pemerintah maka ia termasuk Khawarij.
2. Siapa yang mengkafirkan pelaku dosa besar maka ia termasuk Khawarij.
3. Siapa yang menghalalkan darah kaum muslimin maka ia termasuk Khawarij.
4. Siapa yang mengumpulkan tiga perkara tersebut maka ia termasuk jenis Khawarij yang paling parah.
[Dinukil dari Website Resmi Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah]
โžก Keempat: Pemberontakan itu tidak saja terjadi dengan senjata, tapi bisa juga dengan kata-kata, seperti memprovokasi kebencian terhadap Pemerintah melalui Media Massa, walaupun dengan dalih menasihati, dan tidak akan pernah terjadi pemberontakan dengan senjata sebelum ada pemberontakan dengan kata-kata. Bahkan sejak dahulu, golongan Khawarij jenis ini sudah ada.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafiโ€™i rahimahullah berkata,
ูˆุงู„ู‚ุนุฏูŠุฉ ู‚ูˆู… ู…ู† ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ ูƒุงู†ูˆุง ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุจู‚ูˆู„ู‡ู… ูˆู„ุง ูŠุฑูˆู† ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุจู„ ูŠุฒูŠู†ูˆู†ู‡

โ€œAl-Qoโ€™adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memprovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).โ€ [Fathul Bari, 1/432]
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-โ€˜Utsaimin rahimahullah berkata,
ุจู„ ุงู„ุนุฌุจ ุฃู†ู‡ ูˆูุฌู‘ู‡ ุงู„ุทุนู† ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุŒ ู‚ูŠู„ ู„ู€ู‡ : ุงุนุฏู„ุŒ ูˆู‚ูŠู„ ู„ู€ู‡: ู‡ุฐู‡ ู‚ุณู…ุฉ ู…ุง ุฃุฑูŠุฏ ุจู‡ุง ูˆุฌู‡ ุงู„ู„ู‡. ูˆู‡ุฐุง ุฃูƒุจุฑ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู…ุงู… ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ุณูŠู ูˆูŠูƒูˆู† ุจุงู„ู‚ูˆู„ ูˆุงู„ูƒู„ุงู…ุŒ ูŠุนู†ูŠ: ู‡ุฐุง ู…ุง ุฃุฎุฐ ุงู„ุณูŠู ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ู„ูƒู†ู‡ ุฃู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡
ูˆู†ุญู† ู†ุนู„ู… ุนู„ู… ุงู„ูŠู‚ูŠู† ุจู…ู‚ุชุถู‰ ุทุจูŠุนุฉ ุงู„ุญุงู„ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฎุฑูˆุฌ ุจุงู„ุณูŠู ุฅู„ุง ูˆู‚ุฏ ุณุจู‚ู‡ ุฎุฑูˆุฌ ุจุงู„ู„ุณุงู† ูˆุงู„ู‚ูˆู„. ุงู„ู†ุงุณ ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุฃุฎุฐูˆุง ุณูŠูˆูู‡ู… ูŠุญุงุฑุจูˆู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุจุฏูˆู† ุดูŠุก ูŠุซูŠุฑู‡ู…ุŒ ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู‡ู†ู€ุงูƒ ุดูŠุก ูŠุซู€ูŠุฑู‡ู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ูƒู„ุงู…. ููŠูƒูˆู† ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุจุงู„ูƒู„ุงู… ุฎุฑูˆุฌุงู‹ ุญู‚ูŠู‚ุฉุŒ ุฏู„ุช ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ูˆุงู‚ุน

โ€œSangat mengherankan tatkala celaan  itu diarahkan kepada Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam (yaitu yang dilakukan oleh pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh). Dikatakan kepada beliau, โ€œBerlaku adillah!โ€ Juga dikatakan,  โ€œPembagianmu ini tidak menginginkan wajah Allah!โ€ Ini adalah sebesar-besarnya dalil yang menunjukkan bahwa memberontak kepada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi pula dengan ucapan dan kata-kata. Maksudnya, orang ini tidaklah memerangi Rasul -shallallahuโ€™alaihi wa sallam- dengan pedang, akan tetapi ia mengingkari beliau (dengan ucapan di depan umum).
Kita tahu dengan pasti bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi Penguasa tanpa ada sesuatu yang bisa memprovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memprovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap Penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil  As-Sunnah dan kenyataan.โ€ [Fatawa Al-โ€˜Ulama Al-Akabir, hal. 96]
Asy-Syaikh Al-โ€˜Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ุณูŠูุŒ ูˆู‡ุฐุง ุฃุดุฏ ุงู„ุฎุฑูˆุฌุŒ ูˆูŠูƒูˆู† ุจุงู„ูƒู„ุงู…: ุจุณุจู‡ู…ุŒ ูˆุดุชู…ู‡ู…ุŒ ูˆุงู„ูƒู„ุงู… ููŠู‡ู… ููŠ ุงู„ู…ุฌุงู„ุณุŒ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุงุจุฑุŒ ู‡ุฐุง ูŠู‡ูŠุฌ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุญุซู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุนู„ู‰ ูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู…ุฑุŒ ูˆูŠู†ู‚ุต ู‚ุฏุฑ ุงู„ูˆู„ุงุฉ ุนู†ุฏู‡ู…ุŒ ูุงู„ูƒู„ุงู… ุฎุฑูˆุฌ

โ€œMemberontak kepada Pemerintah bisa jadi dengan senjata, ini adalah pemberontakan yang paling jelek, dan bisa jadi pula dengan ucapan, yaitu dengan mencaci, mencerca dan berbicara tentang kejelekan Pemerintah di majelis-majelis dan mimbar-mimbar, ini dapat memprovokasi dan mendorong manusia untuk memberontak terhadap pemerintah dan menjatuhkan kewibawaan Pemerintah di mata mereka, maka ucapan adalah pemberontakan.โ€ [Al-Fatawa Asy-Syarโ€™iyyah fil Qodhoya Al-โ€˜Ashriyyah, hal. 107]
Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata,
ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู† ูŠู†ุดุฑ ุงู„ู…ุนุงูŠุจ. ู‡ุฐุง ู†ูˆุน ู…ู† ุงู„ุฎุฑูˆุฌ, ุฅุฐุง ู†ูุดูุฑูŽุชู ุงู„ู…ุนุงูŠุจ -ู…ุนุงูŠุจ ุงู„ุญูƒุงู… ูˆุงู„ูˆู„ุงุฉ- ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุงุจุฑ, ูˆููŠ ุงู„ุตุญู ูˆุงู„ู…ุฌู„ุงุช, ูˆููŠ ุงู„ุดุจูƒุฉ ุงู„ู…ุนู„ูˆู…ุงุชูŠุฉุ› ุฃุจุบุถ ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ูˆู„ุงุฉ, ูˆุฃู„ุจูˆู‡ู… ุนู„ูŠู‡ู…, ูุฎุฑุฌ ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ูŠู‡ู…

โ€œTidak boleh bagi seseorang untuk menyebarkan aib-aib Pemerintah, ini termasuk pemberontakan, apabila aib-aib Penguasa disebarkan di mimbar-mimbar, koran-koran, majalah-majalah dan jaringan informasi, maka membuat orang-orang marah dan berkumpul untuk melawan, maka mereka pun memberontak kepada Pemerintah.โ€ [Syarhul Mukhtar fi Ushulis Sunnah, hal. 339]
โžก Kelima: Bagaimana cara menasihati Penguasa yang disyariโ€™atkan? Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
ูุงู„ู†ุตุญ ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ุฃุณู„ูˆุจ ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ูƒุชุงุจุฉ ุงู„ู…ููŠุฏุฉ ูˆุงู„ู…ุดุงูู‡ุฉ ุงู„ู…ููŠุฏุฉ , ูˆู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ู†ุตุญ ุงู„ุชุดู‡ูŠุฑ ุจุนูŠูˆุจ ุงู„ู†ุงุณ , ูˆู„ุง ุจุงู†ุชู‚ุงุฏ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุงุจุฑ ูˆู†ุญูˆู‡ุง , ู„ูƒู† ุงู„ู†ุตุญ ุฃู† ุชุณุนู‰ ุจูƒู„ ู…ุง ูŠุฒูŠู„ ุงู„ุดุฑ ูˆูŠุซุจุช ุงู„ุฎูŠุฑ ุจุงู„ุทุฑู‚ ุงู„ุญูƒูŠู…ุฉ ูˆุจุงู„ูˆุณุงุฆู„ ุงู„ุชูŠ ูŠุฑุถุงู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„

โ€œNasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridhoi Allah โ€˜azza wa jalla.โ€ [Lihat Majmuโ€™ Al-Fatawa, 7/306]
Beliau rahimahullah juga berkata,
ู„ูŠุณ ู…ู† ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุชุดู‡ูŠุฑ ุจุนูŠูˆุจ ุงู„ูˆู„ุงุฉ , ูˆุฐูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุงุจุฑ; ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ูŠูุถูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ููˆุถู‰ ูˆุนุฏู… ุงู„ุณู…ุน ูˆุงู„ุทุงุนุฉ ููŠ ุงู„ู…ุนุฑูˆู , ูˆูŠูุถูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎูˆุถ ุงู„ุฐูŠ ูŠุถุฑ ูˆู„ุง ูŠู†ูุน , ูˆู„ูƒู† ุงู„ุทุฑูŠู‚ุฉ ุงู„ู…ุชุจุนุฉ ุนู†ุฏ ุงู„ุณู„ู : ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ููŠู…ุง ุจูŠู†ู‡ู… ูˆุจูŠู† ุงู„ุณู„ุทุงู† , ูˆุงู„ูƒุชุงุจุฉ ุฅู„ูŠู‡ , ุฃูˆ ุงู„ุงุชุตุงู„ ุจุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชุตู„ูˆู† ุจู‡ ุญุชู‰ ูŠูˆุฌู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ

โ€œBukan termasuk manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib Penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar, sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan serta tidak mendengar dan taat kepada Penguasa dalam perkara yang maโ€™ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan Pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada Penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.โ€ [Lihat Majmuโ€™ Al-Fatawa, 8/210]
โœ… RENUNGAN MENDALAM DARI SEJARAH PARA IMAM
Sudaraku, tahukah Anda tentang seorang ahli hadits, ahli fikih dan ahli ibadah yang bernama Al-Hasan bin Shalih bin Hayy?
Dia adalah rawi hadits yang terpercaya dan kokoh hapalannya, ahli ibadah yang menghabiskan kebanyakan waktu malamnya dengan ibadah dan sering menangis hingga pingsan karena takut kepada Allah.
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,
ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ูƒูŽุจููŠู’ุฑูุŒ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ุฃูŽุนู’ู„ุงูŽู…ูุŒ ุฃูŽุจููˆ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู‡ูŽู…ู’ุฏูŽุงู†ููŠู‘ูุŒ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ูุŒ ุงู„ูƒููˆู’ูููŠู‘ูุŒ ุงู„ููŽู‚ููŠู’ู‡ูุŒ ุงู„ุนูŽุงุจูุฏู

โ€œImam besar, salah seorang tokoh, dia adalah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/52]
Tetapi, para ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah seperti Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, Yusuf bin Asbath, Zaaidah dan selain mereka rahimahumullah mentahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hayy.
Abu Nuโ€™aim rahimahullah berkata,
ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุจูŽุงุจู ุงู„ู‚ูุจู’ู„ููŠู‘ูุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุจู†ู ุตูŽุงู„ูุญู ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู†ูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฎูุดููˆู’ุนู ุงู„ู†ู‘ูููŽุงู‚ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽุชูŽุญูˆู‘ูŽู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุงุฑููŠูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰

โ€œSufyan Ats-Tsauri masuk ke masjid di hari Jumโ€™at melalui salah satu pintu, ternyata Al-Hasan bin Shalih sedang sholat, maka Sufyan Ats-Tsauri berkata: Kami berlindung kepada Allah dari khusyuโ€™ kemunafikan. Lalu beliau mengambil sandalnya dan berpindah ke sisi yang lain.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/53]
Adz-Dzahabi rahimahullah juga menyebutkan,
ูƒูŽุงู†ูŽ ุฒูŽุงุฆูุฏูŽุฉู ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู ูููŠ ุงู„ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุŒ ูŠูุญุฐู‘ูุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ู…ูู†ู ุงุจู’ู†ู ุญูŽูŠู‘ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡

โ€œZaidah duduk di masjid untuk mentahdzir manusia dari Al-Hasan bin Shalih bin Hayy dan teman-temannya.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/54]
Abu Shalih Al-Farraโ€™ rahimahullah berkata,
ุญูŽูƒูŽูŠุชู ู„ููŠููˆู’ุณูููŽ ุจู†ู ุฃูŽุณู’ุจูŽุงุทู ุนูŽู†ู’ ูˆูŽูƒููŠู’ุนู ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ุฑู ุงู„ููุชูŽู†ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฐูŽุงูƒูŽ ูŠูุดู’ุจูู‡ู ุฃูุณู’ุชูŽุงุฐูŽู‡ู. ูŠูŽุนู’ู†ููŠ: ุงู„ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุจู†ูŽ ุญูŽูŠู‘ู. ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ููŠููˆู’ุณูููŽ: ุฃูŽู…ูŽุง ุชูŽุฎูŽุงูู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู’ู†ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุบููŠุจูŽุฉู‹? ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูู…ูŽ ูŠูŽุง ุฃูŽุญู’ู…ูŽู‚ูุŒ ุฃูŽู†ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูู‡ูŽุคูู„ุงูŽุกู ู…ูู†ู’ ุขุจูŽุงุฆูู‡ูู… ูˆูŽุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชูู‡ูู…ุŒ ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ุจูู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซููˆุงุŒ ููŽุชูŽุชู’ุจูŽุนูู‡ูู… ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุฑูู‡ูู…ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุทู’ุฑูŽุงู‡ูู… ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุถูŽุฑู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…

โ€œAku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Wakiโ€™ terkait perkara โ€˜fitnahโ€™. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri, aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bidโ€™ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat, orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/54]Abu Saโ€™id Al-Asyaj rahimahullah berkata,

ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุงุจู’ู†ูŽ ุฅูุฏู’ุฑููŠู’ุณูŽ -ูˆุฐููƒูุฑ ู„ูŽู‡ู ุตูŽุนู’ู‚ู ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุจู†ู ุตูŽุงู„ูุญู- ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุชูŽุจุณู‘ูู…ู ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽุŒ ุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุตูŽุนู’ู‚ู ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู

โ€œAku mendengar Ibnu Idris ketika disebutkan kepadanya tentang pingsannya Al-Hasan bin Shalih karena takut kepada Allah, maka beliau berkata: Senyumnya Sufyan lebih kami cintai daripada pingsannya Al-Hasan.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/54]
Al-Imam Ahmad bin Yunus rahimahullah yang telah belajar kepada Al-Hasan bin Shalih selama 20 tahun pun berkata,
ู„ูŽูˆู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠููˆู„ูŽุฏู ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุจู†ู ุตูŽุงู„ูุญูุŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑุงู‹ ู„ูŽู‡ู
โ€œAndaikan Al-Hasan bin Shalih tidak dilahirkan, itu lebih baik baginya.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/54]
Inilah beberapa penukilan tahdzir ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah di masa itu terhadap Al-Hasan bin Shalih bin Hayy, padahal dia adalah seorang ahli hadits yang kuat dan banyak hapalannya, ahli fikih dan ahli ibadah.
โžก Ada Apa Dengannya?
Ketahuilah saudaraku, para ulama mentahdzirnya karena satu bidโ€™ah[1], sebagaimana kata Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah,
ุฐูŽุงูƒูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูŽุฑูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽูŠู’ููŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู -ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ
โ€œDia adalah orang yang berpendapat boleh memerangi (Pemerintah zalim) umat Muhammad shallallahuโ€™alaihi wa sallam.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/53]
โžก Apakah Dia Pernah Memberontak dengan Senjata?
Sama sekali tidak pernah saudaraku, dia hanya memiliki pemikiran tersebut, namun tidak pernah melakukannya dan tidak pula terang-terangan menyebarkannya. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,
ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑูŽู‰ ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ุฎูุฑููˆู’ุฌูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ูŽุฑูŽุงุกู ุฒูŽู…ูŽุงู†ูู‡ู ู„ูุธูู„ู’ู…ูู‡ูู… ูˆูŽุฌูŽูˆู’ุฑูู‡ูู…ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู…ูŽุง ู‚ูŽุงุชูŽู„ูŽ ุฃูŽุจูŽุฏุงู‹ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑูŽู‰ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ุฎูŽู„ู’ููŽ ุงู„ููŽุงุณูู‚ู

โ€œAl-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya karena kezaliman dan ketidakadilan mereka, akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat tidak boleh sholat Jumโ€™at di belakang imam yang fasik[2].โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/58]
โžก Kesimpulan Adz-Dzahabi rahimahullah,
ู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ูุŒ ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ุชูŽู„ูŽุจู‘ูุณูู‡ู ุจูุจูุฏุนูŽุฉู
โ€œDia termasuk ulama Islam, kalaulah tidak melakukan bidโ€™ah.โ€ [Siyar Aโ€™lamin Nubalaโ€™, 7/52]
Perhatikanlah saudaraku rahimakallaah, hanya satu bidโ€™ah, hanya satu kesalahan, tapi besar, karena menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah, maka para ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah di masa itu melarang manusia untuk belajar kepadanya.
Perhatikan juga, para ulama tidak tertipu dengan keluasan ilmunya, kekuatan hapalannya dan kehebatan ibadahnya, hal itu karena para ulama benar-benar memahami manhaj dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah. Inilah pentingnya menuntut ilmu agama bagi Ahlus Sunnah.
ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…
โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€“
[1] Awalnya adalah satu bidโ€™ah, yaitu pembangkangan terhadap pemerintah muslim yang fasik atau zalim, kemudian dari satu bidโ€™ah tersebut muncul bidโ€™ah yang lain yang merupakan cabangnya, seperti tidak mau sholat Jumโ€™at bersama pemimpin yang fasik atau zalilm tersebut, dan pada hakikatnya sama-sama bidโ€™ah khawarij (lihat catatan kaki nomor 2).
[2] Ucapan Adz-Dzahabi, โ€œDan dia juga berpendapat tidak boleh sholat Jumโ€™at di belakang imam yang fasikโ€ pada awalnya sengaja tidak kami tampilkan dengan dasar bahwa hakikat perbuatan itu hanyalah cabang dari bidโ€™ah yang pertama, yaitu memberontak kepada pemimpin yang fasik atau zalim, bukan karena dia tidak mau sholat Jumโ€™at sama sekali, melainkan tidak mau sholat Jumโ€™at bersama pemimpin yang dia anggap fasik atau zalim. Dan atas masukan dari sebagian Ikhwan untuk menukil lanjutan ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah agar tidak terjadi kesalahpahaman, jazaahumullaahu khayron.
๐Ÿ’พ Sumber:
๐ŸŒ http://sofyanruray.info/renungan-dan-peringatan-terkait-bidah-khawarij-dalam-barisan-ahlus-sunnah/
โ•โ•โ•โ•โ•โ• โโœฟโ โ•โ•โ•โ•โ•โ•
โžก Channel Telegram Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafizhahullah โคต
๐Ÿ“ฎ Join Telegram: http://bit.ly/1TwCsBr

๐Ÿ“ฒ Gabung Group WA: 08111377787

๐ŸŒ Fb: http://www.fb.com/taawundakwah

๐ŸŒ Web: http://www.taawundakwah.com

๐Ÿ“ฑ Android: http://bit.ly/1FDlcQo

๐ŸŽฌ Youtube: Taโ€™awun Dakwah

Advertisements